Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

MENS SANA IN CORPORE SANO

quote-dukungan-kepada-teman

Masih ingat dengan kalimat itu?

Saya jadi terkenang masa-masa SD saat frasa dalam bahasa Latin itu ada di buku teks pelajaran Pendidikan Jasmani. Atau yang lebih sering kita singkat dengan Penjas. 

Well, singkat menyingkat dalam hal apa pun sepertinya memang sudah mendarah daging sejak dulu kala. Karena lebih ringkas, lebih enak ngucapinnya, dan lebih banyak lagi kosa kata kaya yang terlahir dari lisan kita setiap harinya. (Kalo ini sih spesialisnya perempuan. Haha) 

Yang penting jangan sampai menyingkat do'a aja yaa. #selfreminder

Oke, lanjuut!

Mens sana in corpore sano

"Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat"

Adalah Decimus Junius Juvenalis sang pencetusnya, seorang penyair Romawi yang lebih dikenal sebagai Juvenal yang juga penulis karya sastra Satires.

Guru-guru kita dulu kerap menyampaikan frasa itu tentunya dengan tujuan baik, agar kita mau berolahraga untuk menjaga kesehatan jasmani. 

Sebab dengan tubuh yang sehat, kita bisa beraktivitas dengan baik. 

Sebab dengan raga yang kuat, kita bisa beribadah dengan baik. 

Dan segala aktivitas yang diniatkan memberi manfaat untuk sesama, sesungguhnya juga bernilai ibadah.
.
.
.
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. 

Begitulah harapannya.

Kenyataannya enggak selalu seperti itu. 

Dan ada beraneka ragam hal yang membuatnya enggak seperti itu.

Tugas kita bukanlah meributkan hal-hal yang terjadi saat realita tak sesuai ekspektasi. Apalagi sampai harus menghujat dan mencaci maki.

Kita enggak memakai sepatu mereka, Teman Setia. Kita enggak tahu bagaimana dan seperti apa rasanya kalau belum berada di posisi mereka.

Berhentilah menilai sampai jauh karena orang pun punya posisi yang sama untuk menilai kita. #selfreminderagain

Tugas kita adalah bergandeng tangan, saling memahami, memberi dukungan, melangitkan do'a-do'a untuk semua perempuan di dunia.

Memantaskan diri kita.

Agar di dalam tubuh yang sehat benar-benar terdapat jiwa yang kuat.
.
.
.
Sabang, 2 April 2022


 
Read my thoughts on YourQuote app here
Share:

Tsunami Aceh dan Kepingan Puzzle

3 Mei 2017

"Ini mesti dioperasi. Besok sudah bisa masuk yaa," aku sempat tertegun sesaat dengan ucapan dokter di depanku, tak lama setelah pemeriksaan di poli bedah.

Baiklah... Jika memang itu yang terbaik.
.............................

2 November 2019

Aku dan Fadia asik tertawa berbagi cerita ketika Ariyani- sohibku sejak SMP- menghampiri meja kami di de Sagoe Kupi pagi itu. Dia ngga sendiri, tapi bersama seorang cowok asing. Heyyy! What is this about? Ternyata dia seorang youtuber, maaaan. Ingin mewawancarai kami tentang syariat Islam khususnya hijab di Aceh.

Wow wow wow! Pembahasan yang sensitif ini maah.
..........................

6 Februari 2020

Ini kali ke sekian Shawn mengirim DM di Instagram. Kali ini disertai link Youtube channelnya dengan tajuk yang bikin aku tertegun

Mr. Dokter, yang dulu sempat bikin aku nangis menahan suara saat pemeriksaan luka bekas operasi 2008 silam, jadi tokoh utama Shawn kali ini.


Ya. Aku tahu, kalau Moha-begitu Shawn memanggil Mr. Dokter- adalah teman Shawn saat sesi wawancara dulu. Tapi setelah menonton video berdurasi 41 menit lebih itu, membuatku kembali tercenung dan lalu meninggalkan jejak di kolom komentar;

Thank you for the video. This remind me, warn me that every of us have the sad story. So I am not the only one who feel grieve. Btw, he was the one who saved me on the surgery a few years ago. Seeing this video show me the other side of every human being. Very sad but inspiring
 
Setiap kita, pastilah memiliki kisah sedih yang mungkin tidak pernah kita bagi kecuali pada orang-orang terdekat. Bahkan bisa jadi kisah itu hanya kita simpan sendiri.
 
Ada banyak alasan sebagian orang menyimpan kisah untuknya sendiri dan menutupnya rapat-rapat dengan senyuman. Hingga sering menipu pandangan lalu dianggap sebagai orang paling berbahagia di dunia. Benarkah? Semoga...
 
Namun di sisi lain, dengan berbagi kisah baik sedih maupun senang tentu memiliki nilai sendiri yang bisa menginspirasi orang lain untuk merenung dan mengambil pelajaran darinya. Cerita indah akan menularkan energi bahagia, sementara kisah nestapa menyadarkan kita bahwa kita tak sendiri dan ada orang lain yang boleh jadi lebih sengsara di semesta raya ini.

Meski memang, terkadang dunia menjadi kecil ketika kita bertemu orang-orang yang bagaikan kepingan puzzle melengkapi hidup kita, Seperti pertemuan saya dengan Shawn yang terkoneksi dengan Mr. Dokter

Hari ini, 16 tahun sudah tragedi Tsunami Aceh. Teriring doa untuk para syuhada. 
 
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاكْرِمْ نُزُلَهُمْ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُمْ وَاغْسِلْهُمْ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِمْ مِنَ الْخَطَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُمْ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِمْ وَاهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِمْ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِمْ وَقِّهِمْ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ




Share:

Filosofi Staples

Tahu staples?
Di tempat saya biasa disebut anak penjilid atau anak hecter. Kalau ada anaknya, tentu ada ibunya. Ibunya ya si Hecter ini alias stapler. Hehehe.

Teman-teman tentu sudah pada tahu dong fungsi si staples ini. Yap! Ia berjasa menyatukan dokumen-dokumen penting kita, makalah, catatan, faktur atau apalah supaya rapi dan ngga tercecer. Staples juga yang membantu ibu-ibu penjual nasi atau jajanan untuk membungkus dagangannya. Cekrek! Cekrek!  :) Meski dua yang terakhir ini ngga recommended yaa, mengingat resikonya yang ngga kecil.

Kalau saya sendiri dulu biasa memakai staples ini buat cekrek-in foto-foto ke formulir di tempat kerja yang lama, karena kalau pakai lem, tumpukan dokumennya gembung sebelah, jadi ngga enak dan ngga rapi dilihatnya. 

Whatever, pokoknya banyak lah kegunaan si staples ini.

Sepanjang pengetahuan saya, staples ini ada 3 macam ukuran. Yang paling kecil dan sering kita lihat dan pakai adalah yang nomor 10. Trus ada yang ukuran sedang (nomor 1) dan yang gede nomor 3. Koreksi saya kalau salah yaa 😊

Staples ini sifatnya ngga jauh beda sama jarum. Beda tipis, 11 12 lah. Keduanya sama-sama melukai dulu sebelum menyatukan apa-apa yang sebelumnya terpisah. Sama seperti teman yang baik, kata-katanya mungkin terkadang menusuk, tapi tujuannya untuk kebaikan kita.

Staples juga sejago dan "sepedas" cabe rawit. Wujud boleh kecil tapi "sensasi" yang diberikan sungguh besar. Coba aja pas buka bungkusan nasi yang distaples ngga hati-hati, trus staplesnya terjatuh sembunyi di antara lauk. Pasti kalang kabut, kaan? Pernah ada teman yang cerita, dianya ngga sengaja ketelan staples pas makan nasi bungkus. Ngeriii. 

Pengalaman pribadi saya di anak sendiri, yang ngga sengaja menginjak staples di sekolahannya. Pas jadwal kunjungan seminggu sekali dulu sebelum pandemi (anak saya mondok), dia ngga ngasih tahu karena menganggap sepele. Alhasil seminggu kemudian saya melarikannya ke IGD setelah dapat telpon darurat. Alhamdulillah segera diobati dan ngga terjadi apa-apa.

Staples menjadi barang yang berguna  saat kita tau memanfaatkannya dengan benar. Namun dia berubah berbahaya saat kita menyepelekan.

Sama halnya saat kau meremehkan dan menyepelekan orang lain hanya karena penampilannya. Lalu terkejut saat ternyata dia lebih dari yang kau kira.

Catatan lama yang hampir terabaikan
Share:

ALHAMDULILLAH ALLAH MASIH SAYANG

Allah-Knows-The-Best-For-Us
Kalimat di atas kerap terucap ketika kita terlepas dan atau terlindungi dari suatu musibah. Betul tidak? 😊 Ungkapan yang wajar sebagai rasa syukur kita kepada Allah,  kita kira.

Tapi, ketika musibah datang menimpa kita, apakah kita lantas merasa bahwa Allah tidak sayang? 

Sahabatku... 
Mari kita renungkan perumpamaan berikut...

Di sebuah sekolah yang terdiri dari beberapa kelas,  setiap guru membimbing kelas sesuai tingkatannya masing-masing. Guru-guru tersebut dikenal kompeten di bidangnya dan sangat penyayang kepada semua muridnya.

Di setiap kelas, setiap murid memiliki kemampuan yang berbeda-beda.  Ada yang cepat menyerap pelajaran,  ada yang rata-rata,  dan ada pula yang lambat.  

Ada murid yang memiliki kemampuan di bidang matematika,  ada yang ahli bahasa,  ada juga yang jago olahraga.  Begitu seterusnya. 

Ketika ujian dilaksanakan,  sebagian murid bisa mengerjakan soal-soal dengan baik,  sementara sebagian lainnya tidak.  

Begitupun saat kenaikan kelas.  Ada beberapa murid yang mendapat nilai pas-pas-an,  buruk hingga harus menetap di kelas yang sama,  alias tinggal kelas.

Guru-guru yang penyayang ini sedih bukan kepalang. Di satu sisi mereka ingin semua muridnya  bisa mendapat nilai yang bagus dan naik kelas.  Namun di sisi lain,  mereka juga ingin para muridnya belajar bahwa hasil selalu sebanding dengan usaha. Sehingga anak-anak didik mereka belajar dengan giat untuk mencapainya.

Oke.  Kita bisa berkomentar asal,  

"Apa susahnya sih beri nilai yang bagus untuk semua murid?" 

"Dinaikkelaskan saja semuanya,  apa salahnya,  sih? " 

bla bla bla 😃


Sahabatku, 

Kalau begitu halnya, untuk apa pula diadakan ujian? Toh hasilnya sudah ada?  Betul, tidak? Ngapain repot-repot?  Juga,  sekalian aja,  untuk apa sekolah,  kalau ijazah bisa dibeli,  misalnya.  Duh!  Serem nih 😁


Guru-guru yang sayang kepada anak didiknya, tak serta merta memberikan apa yang diinginkan (nilai bagus, naik kelas) jika murid yang bersangkutan belum berhak mendapatkannya

Itulah hidup.  

Setiap kita memiliki ujian yang berbeda. Si A diuji dengan ini,  si B berkutat dengan masalah itu.  Kalau hari ini A dan B diuji,  sementara C dan D "aman-aman saja",  apakah itu berarti si C dan D saja yang disayang Allah,  sementara si A dan B tidak?  

Kita tahu jawabannya; tentu saja tidak.

Setiap kita diuji Allah, sesuai masanya. Hari ini mungkin bukan kita, esok lusa bisa jadi kita.

Kita diuji karena Allah sayang. Dan semua ujian yang diberi itu sesuai kesanggupan kita.


Kata-kata 'Alhamdulillah, Allah masih sayang' seyogyanya bukan hanya karena kita bersyukur, tapi juga mengasah empati kepada siapa yang diuji Allah hari ini.

Kasih sayang tak melulu tentang kelembutan, tapi juga kepedulian.


Salam,
Lizanovia M. Hadi

*Terinspirasi dari suatu "kecelakaan" kecil di Oktober 2017 😊
Share:

HIDUP YANG SEPARUH

Saat kita kehilangan orang yang berarti, orang yang kita cintai
Sebab perpisahan oleh jarak, waktu dan juga kematian
Saat itulah hidup terasa separuh

Segala hal yang serba separuh tentu saja tidak akan pernah lengkap
Bagaimana burung bisa terbang dengan sayap yang sebelah patah?
Bagaimana kita bisa berjalan sempurna dengan kaki yang sebelah lumpuh?

Hidup memang terus dan harus tetap berjalan
Sebab di situlah letak ujian keimanan
Bagaimana dengan hidup yang separuh
Kita berjuang untuk tetap utuh

@LizanoviaMHadi
The Island, 13.10.2017

Share:

Ibu dan Omelet Kentang Gantung



Ibu adalah sosok wanita luar biasa yang multi talenta
Tangan dinginnya mampu merawat tanaman yang tak semua kami anak-anaknya bisa melakukannya
Ibu juga mampu mengerjakan pekerjaan yang umumnya dikerjakan kaum pria, membuat kandang ayam kami, misalnya
Ibu yang mengajarkan kami anak-anaknya mengambil pelajaran dari hidup
Dengan apa yang dikatakannya, dan apa yang tidak dikatakannya

Meskipun beliau telah tiada,
Kenangan yang tersimpan tentangnya selalu membawa inspirasi baru setiap kali mengingatnya
Seperti kenanganku tentang Kentang Gantung yang satu ini
Gambar Kentang Gantung

Pertama saya kenal kentang gantung, waktu itu umur saya sekitar 12 atau 13 tahun
Ibu kami menanamnya di lahan kecil di antara dapur dan rumah induk kami
Seperti kentang biasa, bibit kentang di tanam di dalam tanah

Selang beberapa waktu, mulailah sulurnya tumbuh dan menjalar di dinding dapur
Satu satu, dari ketiak daunnya menyembul bayi-bayi kentang yang cantik dan menggemaskan
Karena pertumbuhannya cukup pesat
Dan lahan di dapur kami lumayan kecil
Ibu segera mengambil satu buah kentang untuk dijadikan bibit dan ditanam di luar

Seperti yang di dapur, bibit yang satu inipun cepat tumbuh dan berkembang
Dalam sekejap sulurnya merajai area samping rumah
Saya suka berlama-lama di situ, memandangi takjub bola-bola kentang dengan aneka ukuran
Yang kalau melihat dahan-dahannya yang nampak lemah
Sepertinya tak mungkin kuat menahan beban kentang-kentang itu


Seringkali kita menyepelekan orang hanya dari penampilannya. Bahkan tak jarang kita meremehkan diri sendiri. Menyangsikan kemampuan diri sendiri. "Saya ngga bisa"  "Saya ngga bakat"  Dan segunung alasan lainnya. Padahal belum juga dicoba.


Saat dirasa cukup waktunya, kentang-kentang itu pun dipisahkan ibuku dari induknya
Dipetik gituu :D
Apalagi kalau bukan buat dimasak *ya iyalaah :D
Tapiiii, jangan bayangkan kentang goreng atau semur atau gulai kentang ya, teman-teman :)
Kentang gantung ngga bisa dibuat menu2 itu, karena teksturnya akan hancur saat dimasak

Bukan ibuku namanya, kalau mudah menyerah
Dicampur dengan kelapa parut dan bumbu halus, kentang gantungpun dibuat omelet oleh ibuku
Yummy, rasanya ngga kalah enak dengan omelet kentang biasa lho
Serumah pada ketagihaaan ^_^


Memangnya, kalau kita merasa berbeda: Gaptek, ngga bakat, ngga pengalaman, dll dsb. Lantas kita bisa begitu saja menganggap diri ngga berguna? Ngga punya kelebihan sama sekali? Setiap kita punya kekurangan, itu pasti. Setiap kita punya kelebihan, dan itu juga pasti. Tinggal gimana aja kita fokus pada kelebihan dan bukannya kekurangan. 

Dan memang, tak sedikit orang yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menemukan kelebihannya


Sekali waktu, kami serumah penasaran
Seperti apa sih rupa bibit kentang pertama yang ditanam ibu di dapur?
Dikuasai rasa ingin tahu yang besar itu, dibongkarlah kebun kecil itu

Daan ternyataaa..
Rupa si bibit kentang sangaaat berbeda, jauuuuh dari saat pertama ia dibenamkan ibu di tanah
Dari gumpalan sebesar genggaman ibu, jadi puluhan kali lipat besarnya
Tak beraturan, berurat, berakar, tua, dan jelek. Ngga ada bagus-bagusnya
Tidak menggemaskan seperti bayi-bayi kentang yang bergantungan


Saat seseorang sudah sukses, sudah berhasil mencapai impiannya. Orang hanya akan melihat yang tampak saja, hasil akhirnya saja. Tak tahu apa yang sudah orang tersebut hadapi untuk mencapainya. "Beruntung banget ya, mba" "Mba sih enak, sudah sukses. Ngga payah lagi ngajakin orang" Padahal, orang sukses juga mengalami yang namanya penolakan. Mengalami juga yang namanya kegagalan. Yang membedakan hanyalah, orang sukses tak pernah berhenti. Meski berkali gagal dan terjatuh. 

Sebelum internet pesat seperti sekarang ini
Saya pernah kebingungan menunjukkan ke teman-teman saya
Kalau kentang gantung itu beneran ada
Kebanyakan mereka ngga percaya, sangsi sama saya
Saya juga ngga bisa nunjukin wujudnya
Karena sejak pindah rumah, meskipun sempat ditanam lagi oleh ibu
Pohonnya tumbang barengan pohon jeruk nipis karena hujan badai :(
Tapi sekarang saya bisaaa :) *Thanks internet mmuaahhh :*


Membuktikan sesuatu yang kita yakini memang bukan perkara mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Selama kita percaya, kita bisa.

Tiba-tiba, saya jadi kangen omelete kentang gantung buatan ibu :')


Sabang, 14 April 2014 22.00 WIB

Inspirasi Malam, Mengenangmu Ibu


*Gambar: http://ssbayup.blogspot.com/
Share:

LUMPUR SYUKUR

perempuan memandang pantai
Aku mungkin tersungkur dulu, dan tanah
berlumpur membalur tubuhku sekujur.
Tapi lihatlah!
Lumpur itu kini menjelma syukur.
Dia memberiku sensasi
saat kami saling melebur.

Dan kini, dengan kedua tanganku, akan
kusemai bibit baru di bekas genangan lumpur itu,
yang telah kuolah menjadi lahan baru.

Tidak pernah ada yang sia-sia bahkan dari sesuatu yang
tampak sia-sia. Aku akan panen saat waktunya tiba!


19 Januari 2012, mengumpulkan yang terserak
Share:

Penipu di Siang Bolong

Lagi enak - enak tidur siang, eh ada telpon entah dari siapa. Karena mikir positif, "Mungkin dari prospek nih", saya segera mengangkatnya. Rupanya bapak-bapak. Ngakunya sih dari Sido Muncul. Bilang kalau saya dapat hadiah uang tunai 8,5 juta plus pulsa 1 juta. Hadeeeh, Bapaaak! Kalau mau nipu mah jangan ke saya.

Yang sudah - sudah, kalau menerima telepon serupa saya pasti semangat 45. Semangat untuk ngerjai, hehe. Pura-pura bisa dibodohi, seneng bisa dapat hadiah buanyak dsb dsb. Dan pada akhirnya, setelah pulsa di penelpon terkuras, saya dengan santai akan bilang,"Duh, Pak, Bu, maaf, saya belum perlu" Intinya yang bikin si penipu gondok abis dah hehe

Tapi kali ini saya lagi ngantuk. Dalam keadaan menahan kantuk itu, malas-malasan saya menjawab telpon si Bapak yang kalau saja suaranya dimanfaatkan untuk kebaikan, pasti mantap tuh. Sesekali ia akan berhenti dan bilang,"Halo, Bu?", memastikan saya mendengarkan. Saya yang memang ngantuk plus sebal cuma mengiya-iyakan dengan malas. Maksudnya sih biar si Bapak nyadar dan ngga melanjutkan aksinya. Tapi, teteeup. 

Sampai akhirnya, keluar jurus pamungkas si Bapak. Apalagi kalau bukan menanyakan nomor rekening. Aha, ini dia. Dengan gaya polos saya bilang,"Aduh, Pak. Saya ngga punya rekening!" Belum sempat saya menyambung, tak, sambungan langsung terputus. Hahaha, antara puas dan sebal karena tidur siang yang terganggu.

Kejadian serupa di atas tentu bukan saya sendiri yang pernah bahkan sering mengalaminya. Dan ngga sedikit pula yang nyaris dan pernah tertipu. Kehidupan yang begitu sulitkah? Atau keserakahan manusiakah? Yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segala sesuatunya secara instan? 

Setelah menerima telpon tersebut, terlintas di benak untuk mengirim sms. Karena sehari sebelumnya, seorang teman di jaringan bisnis saya menerima sms dengan modus serupa. Dan saya mencandainya dengan kalimat,"Kenapa ngga diprospek aja?" Sekarang saya yang berpikir,"Kenapa ngga coba saya prospek aja ya Bapak penelpon tadi?" hehe. Tapiiii, akhirnya sisi hati yang lain membatalkannya. 

Teman-teman sendiri gimana? Pernahkah mengalami kejadian serupa? Saya sangat senang bila teman semua mau berbagi di sini. 

*true story on Dec 4, 2012


Share:

Ivedich, Akhir Sebuah Cerita

Aku telah tahu kemana sungai akan bermuara
Mana mungkin aku membiaskan arah


Daratan mungkin telah membelah lintasan
Hingga jarak tempuh semakin panjang
Hingga entah berapa persinggahan

Namun muara adalah niscaya!

Tiga detik dari 12, 19 Januari 2012
Share:

Anggrek Oh Anggrek

anggrek, fotografi, bunga
Hening pagi ini dipecahkan oleh suara kakakku yang marah bercampur sedih dan kecewa. Apa pasal? Anggrek kesayangannya hilang! Oalah.... siapa ya yang tega-teganya melakukannya?

Ini bukan kali pertama kami kehilangan tanaman kesayangan. Dulu, almarhum abangku pernah kehilangan bonsai kelingkitnya. Bonsai yang dibuatnya sendiri dan dirawatnya sepenuh hati, lenyap digondol maling yang mencintai keindahan tapi ngga mau susah. Ngga butuh waktu begitu lama, langsung diketahui keberadaan bonsai itu. Saya ngga begitu ingat kejadiannya waktu itu. 

Gimana dengan kasus anggrek ini? Jangan harap akan kembali. Kalau dulu bonsai lenyap sekaligus potnya, si anggrek lenyap meninggalkan rumahnya. Kalau diibaratkan, seperti anak yang dipaksa meninggalkan ibunya. 

Tapi gara - gara kejadian itu, saya jadi teringat untuk memotret anggrek yang tersisa di rumah. Hehehe... 


Saya membayang-bayangkan anggrek yang hilang itu. Warnanya yang putih dan bergerombol itu mungkin begitu menghipnotis si pengasuh barunya.  Keindahan memang kadang mendorong orang melakukan sesuatu yang tidak baik ya?. Demi mendapatkannya. Demi memilikinya. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain yang memilikinya.

anggrek, fotografi, bunga


Well, pelajaran pagi ini yang bisa saya ambil. Seindah apapun sesuatu yang membuat engkau mencintai dan ingin memilikinya, namun jika ia bukan milikmu, maka ia tak berhak untuk kau miliki.

Anggrek, 16 Januari 2012
photo: private collection



Share:

Sanggup



foto tangan bergandengan
Foto: Huffingtonpost.com
Pernahkah kamu lihat luka yang selama ini aku sembunyikan di balik bajuku? Kamu tahu? Sudah sejak lama aku menahan perih luka ini. Aku tak mau memberitahukan ini kepada siapa pun. Hanya kamu. Ya, hanya kamu. Kamulah satu-satunya yang aku beritahukan. Apakah kamu bisa menjaga rahasiaku?

Tak hanya menjaga rahasia, bisakah kamu memahamiku?

Memahami luka menahun yang kutahan ini? Luka yang membuatku menjadi seperti ini. Yang selalu saja ingin kuceritakan tapi selalu pula kutahan karena khawatir akan penolakan.

Kadang kupikir, rahasia biarlah tetap menjadi rahasia, luka yang kupunya biarlah kusimpan saja sendiri, tapi rasanya itu tidak mudah lagi bagiku sekarang. Ketika kesulitan dan masalah terus-menerus berdatangan menghimpitku. Aku terdesak. Sesak di dada. Aku butuh pertolongan. Aku butuh dukungan. Dan aku butuh kamu untuk menggenapiku.

Sebab sekarang aku tahu. Kaulah orang yang tepat untuk kubagi rahasiaku. Kaulah yang kuinginkan untuk kubagi rahasiaku. Setelah sekian masa kusimpan di sudut kalbu.

Sudah tiba masanya aku mengakhiri rahasia ini.

“Mas, ada yang ingin kuberitahukan padamu?”

Ada jeda yang terasa begitu lebar di antara kita sekarang. “Ada apa?”

Arrgh, entah kenapa masih terasa berat kuungkapkan. Selalu saja aku harus berjuang keras setiap kali aku berusaha mengungkapkan sesuatu padamu.

“Ngg.. menurutmu..” tak dapat kusembunyikan nafasku. “Bisakah dipahami orang yang terbelenggu oleh luka masa lalunya?”

“Ada apa? Apa yang kamu maksudkan? Mas tidak mengerti.”

“Pernahkah mas merasa terbelenggu oleh kenangan di masa lalu? Dan mas merasa tidak bisa berlaku sesuka yang mas inginkan, karena mas tahu, ada beberapa hal di masa lalu yang menahan mas untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu?”

“Mas masih belum mengerti. Coba beritahukan apa yang ingin kamu sampaikan. Mas tidak akan marah. Mas janji.”

Lagi – lagi aku harus menghela nafas. Menariknya lagi.

“Seandainya.. mas memiliki kenangan yang menyakitkan, tapi tidak bisa mas lupakan sampai kapanpun. Meskipun berkali – kali mencobanya,” kuhela nafas lagi “kenangan itu membuat mas selalu berpikir setiap kali akan melakukan sesuatu, atau mengambil suatu keputusan”

Dan sekali lagi, kamu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihatku berbicara seperti itu.

“Ada apa sayang? Adakah luka dari masa lalumu yang masih saja terasa sakit hingga sekarang?”

Aku menggangguk. Sepertinya kini kamu mulai mengerti.

Hufff… kali ini nafasku menghembus lebih keras dari yang tadi.

“Sangat sakit, mas. Hingga sering aku merasa sesak hanya dengan mengingatnya. Aku tak ingin mengingatnya. Tapi ingatan itu datang begitu saja. Bisakah kamu pahami itu, mas? Bisakah kamu menerima diriku yang seperti itu? Kenangan itu yang sering buatku ragu untuk membuka hatiku seutuhnya. Percaya seutuhnya”

Aku merasa takut tiba – tiba. Tapi, bagaimana pun aku sudah mengatakannya.

Kamu hanya tersenyum menanggapiku berbicara seperti itu. Apakah aku sudah salah ketika membicarakan ini kepadamu? Apakah aku sudah mengecewakanmu?

Tak pernah kusangka akan seperti ini jawaban yang kuterima darimu. Perlahan namun pasti, air mata turun dari kedua mataku.

“Mas pikir kamu akan berbicara hal lain.” Kamu tertawa pelan melihatku seperti ini. Aku kini meradang menerka-nerka lakumu. “Sudahlah, sayang. Semua yang sudah terjadi, biarlah menjadi kenangan yang tak perlu kamu usik-usik lagi.”

Aku tertegun. Menatap kedua bola matamu yang kini terasa sangat teduh.

“Apa yang sudah menjadi kenangan, biarlah ia menjadi kenangan. Mas tidak ingin membuka dan mengingat-ingat masa lalu dan malah membenamkanmu dalam keraguan yang berkepanjangan. Mas tidak mau. Jadi…”

Aku menunggumu. Apa yang ingin kamu sampaikan mas?

“Jadi, sudahlah, pegang tanganku erat, genggam dengan tulus. Jika kamu memang masih membutuhkan waktu untuk sembuh dari rasa sakitmu. Mas akan menunggu dengan sabar. Mas akan tetap menemanimu sampai saat itu tiba.”

Apakah aku sedang bermimpi? Mana mungkin ada seorang lelaki yang mau disakiti terus-menerus? Apakah aku terlampau berhati batu membiarkan ia yang mencintaiku sakit begitu saja sembari menunggu lukaku sembuh?

“Kamu jangan bercanda, Mas. Kamu tidak akan sanggup.”

“Jika memang mas nanti jatuh di persimpangan jalan. Kuatkan mas. Bukankah memang seharusnya begitu? Cinta itu menguatkan. Dan begitu juga mas sekarang, di saat kamu tengah dalam keraguan, mas ingin menguatkanmu. Maukah kamu mengizinkan mas melakukan itu?

Mataku berkedip sejenak. Menatap mata teduhmu. Tanpa ragu aku mengangguk

13 Januari 2012
Tulisan duet with Teguh Puja







Share:

Sayonara, November

suzue miuchi, sayonara, november
Kuberikan lambaian terindah pada November
Meski hatiku sakit teramat sakit
Tapi kebahagiaan ada saat melepaskan

Selamat tinggal
Kini aku di Desember


picture from: Glass Mask - Suzue Miuchi
Share:

PERANG! - bagian 2

perang, puisi perang, knight rider

Akhirnya perang kumenangkan jua!
Meski harus terluka parah, bermandikan genangan darah
Seribu panah menancap di dada, lengan, wajah, kaki, dan seluruh raga

Damailah, damailah jiwa dalam kerelaan
Bersabarlah, bersabarlah dalam keikhlasan
Takkan pernah sia - sia seluruh pengorbanan

22 November 2011
Ketika jiwa mengabarkan kemenangannya
picture from photobucket
Share:

PERANG!

auriga, kendaraan perang, visualisasi auriga
Mungkinkah?
Aku tahu sebenarnya; sangat mungkin!
Bisakah?
Aku juga tahu; pasti bisa!
Ikhlaskah?
Aku terhenti tergugu di sini
Sering kusadari, tapi selalu tak bisa kuhindari

Perang ini tlah berkecamuk sekian lama
Entah berapa auriga telah dihela
Ribuan anak panah menancap, pedang - pedang menghunus
Darah menggenang bercampur air mata
Dan jiwa selalu pulang membawa kekalahannya


31 Okt. 2011
perang belum selesai, hingga jiwa mengabarkan kemenangannya
Share:

CINTA


cinta
Meninggalkan orang yang kau cintai
tak ubahnya menggenggam bara api
Tapi hidup tak sempurna
kecuali kau membuatnya sempurna


Kali ini, aku ingin berbicara tentang cinta. Ya ya ya. Kalian boleh menganggap ini tentang diriku, atau siapa saja. Bukankah siapa saja pernah bersinggungan dengan cinta?
Share:

Berkaca pada Cermin II

Tentang jiwa - jiwa pemilik kegagalan

Di sini kududuk dan berkaca pada cermin
Kutemukan bayangan diriku di sana
Bibir tersenyum mata tertawa
Tapi kulihat hatiku meneteskan lara
Kusaksikan gurat - gurat ketegaran bertaburan
Tapi nyata masih membayang ketidakikhlasan

Kuperintah diriku untuk berhati baja
Tapi ternyata kristal di hatiku berkali - kali pecah
Kupunguti pecahan - pecahan itu, kusatukan lagi
jatuh dan pecah lagi, dan kusatukan lagi

Share:

Berkaca pada Cermin I

Tentang jiwa - jiwa pencari kebenaran

Berkacalah pada cermin
Karena akan kau temukan dirimu di sana
Dirimu yang sesungguhnya

Kau mungkin bisa berbohong kepada yang lain
tentang pikiran - pikiran dan perasaan - perasaan sejatimu
Tapi kau takkan bisa mendustai dirimu
Ketika kau berkaca pada cermin
Meski begitu ingin dan berusahanya dirimu untuk itu
Hati kecilmu takkan mungkin bisa berdusta

Share:

Lelaki yang Berusaha Menyenangkan Hati Semua Orang

whatever we say, whatever we do, people will always have something to say
Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang. 
Berbuatlah apa yang menurutmu benar

Alkisah, ada seorang lelaki yang selalu berusaha menyenangkan hati semua orang. Pria ini hidup sebagai petani di desa dengan seorang istri dan anak lelakinya.

Pada suatu hari, ayah dan anak ini pergi ke kota sambil membawa seekor keledai. Mereka akan menjualnya di pasar. Sambil menuntun keledai yang juga berjalan dengan sabar, ayah dan anak lelakinya saling berbagi cerita. 

Share:

Belajar dari Abraham Lincoln

Abraham Lincoln Photo

Abraham Lincoln, presiden AS ke-16, pernah berkata:"Kegagalan itu ibarat orang yang berjalan. Yang terpeleset biasa dan bukannya jatuh yang membuatnya tak bisa bangkit dan berjalan ke depan"


Ia lahir dan dibesarkan dalam kemelaratan. Kalah dalam 8 kali pemilu. 2 kali gagal total dalam bisnis. Berkali - kali kehilangan pekerjaan dan ditolak dalam mencari pekerjaan. Bahkan keluarganya sempat dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Konon, Abraham Lincoln pernah mengidap gangguan syaraf total. Meski demikian, ia selalu memandang semuanya dari sudut pandang optimisme, dan bukan pesimisme

Bagaimana dengan kita?
Share:

Ketika Harus Gagal dan Kecewa

Dulu pernah kusandarkan letihku pada sepasang mata 
yang kukira bisa meneduhkan jiwa

Tapi ternyata putaran roda waktu membawaku 

pada kenyataan bahwa hidup sering tak sesuai rencana 


Bukanlah hal yang "aneh" lagi kalau banyak hal di dunia ini yang tidak sesuai dengan rencana dan impian kita. Sematang apapun rencana yang kita buat dan usaha kita untuk mewujudkannya. Setinggi apapun impian yang kita bangun. Pada akhirnya kita hanya bisa berkata,"Manusia berencana, Tuhan Menentukan" 


Sakit. Kecewa. Sedih. Marah. Dan lain - lain perasaan akibat kenyataan tak sesuai rencana dan impian adalah hal yang manusiawi saya rasa. Siapa sih yang tak sedih kalau harus kehilangan orang - orang yang kita sayangi dan cintai? Siapa yang tak kecewa bila dikhianati dan disakiti? Siapa yang tak marah bila ... ??? bla.. bla.. bla.. 


Tapi toh pada akhirnya, kita tetap harus kembali "normal" dengan realita yang ada. Harus "nrimo". Ya, meski tahap penerimaan tiap orang tidak sama. Ada yang butuh waktu lama. Ada pula yang mampu segera bangkit dan lepas dari kungkungan rasa kecewa, marah dsb tersebut. 



Anda Mungkin pernah membaca "Kupinang Engkau dengan Hamdalah"-nya M. Fauzil Adhim. Di salah satu bab bukunya ( saya lupa halaman berapa, karena buku tersebut juga telah saya hadiahkan :) beliau mengatakan bahwa ketika kita merasa kecewa, sedih, marah, bukanlah hal yang bijak bila kita terburu - buru "membunuh" rasa itu. 



Kenapa? Karena hal itu tidak akan bertahan lama. Ketika suatu saat memori kita teringat kembali akan hal itu, perasaan tersebut akan bertambah dua kali lipat. 



Beda halnya bila kita membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Meski perlahan, rasa itu akan terkikis, terkikis, dan akhirnya hilang sama sekali 



Sama seperti Anda, saya juga berkali kali mengalami kegagalan dan kekecewaan dalam hidup. Dan saya menemukan bahwa apa yang dikatakan M. Fauzil Adhim itu benar adanya 



Kita memang tidak bisa melupakan semua kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup. Kuncinya adalah; Kita tak perlu mengingat - ingat kejadian tersebut kecuali lintasan waktu membawanya kembali ke dalam ingatan kita. 



Sejenak. 

Hanya sejenak
Share:

Featured post

Cara Mudah Bikin Blog dari Ponsel

Baru-baru ini ada beberapa teman yang meminta dibikinkan tutorial cara bikin blog yang mudah tanpa mesti menggunakan komputer alias dari...

Arsip