PILKADA 2024 Momen Pertama Gen Z Memilih
RUMAH KARANG Sejuta Kenangan
Siang tadi saya pergi kondangan di daerah rumah lama masa SMP hingga awal SMA dulu. Meski sering lewat daerah ini, tapi nggak sampai ke dalam-dalamnya. Makanya baru tadi saya melihat kembali peninggalan rumah tempat tinggal kami sekeluarga dulu.
Rumah Karang, begitu dulu kami nyebutnya, karena memang berdiri di atas karang, dengan posisi lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya. Kini hanya tinggal pondasi dan tangga batunya saja.
Banyak kenangan terukir di sana; tentang ibu, bapak, kehidupan bertetangga, persahabatan, hingga kenangan cinta monyet masa remaja.
Saya masih ingat betul, ketika malam tiba, saya akan belajar dibantu penerangan lampu teplok. Saat itu memang belum ada sambungan listrik. Bahkan untuk air pun kami sempat membayar ke tetangga, sebelum kemudian memasang sambungan PAM sendiri.
Saya belajar di ruang tengah yang juga merangkap ruang makan. Dengan meja merapat ke dinding, di kiri saya adalah ruang depan berdampingan dengan kamar pertama, di kanan saya ada pintu menuju dapur dan kamar mandi.
Di ruang tengah ini, di kiri belakang saya ada lemari pakaian, di kanan belakang ada lemari makan. Sementara di tengah-tengahnya adalah pintu kamar kedua yang memuat dua ranjang dan satu lemari pakaian.
Rumah Karang ini begitu kecil, tapi kami hidup bahagia di sana, meski seringkali pas-pasan dalam segalanya.
Malam hari selepas waktu maghrib ataupun isya, kami akan duduk di tangga batu. Bercengkrama bersama tetangga sebelah, sembari mendengarkan sandiwara radio yang jadi favorit masa itu. Rumah ini memang terdiri atas 2 pintu yang dihuni 2 keluarga.
Dari tangga batu ini pula saya suka menyaksikan bintang bertaburan bagai permata di langit malam. Ketika mengingat pelajaran di sekolah, saya akan mencari-cari di mana rasi bintang biduk, layang-layang maupun scorpio.
Kebahagiaan menatap langit malam kala itu sungguh tak bisa dibandingkan dengan menatap gadget hari ini.
Ada rasa luas, ada rasa lapang di jiwa.
Ada banyak kenangan tertinggal, ada banyak untaian aksara tercipta di sana.
Bahkan puisi tentang kepulangan ke negeri akhirat saya tuliskan di Rumah Karang ini, tepat sehari sebelum kepergian bapak dan abang tercinta dalam tragedi tenggelamnya KMP Gurita.
Rumah Karang memang tinggal pondasi dan tangga batunya saja. Namun apa yang pernah terukir di sana, akan abadi selamanya.
Sabang, 11.11.2023
Untuk Bapak, Ibu, dan Abangku tercinta.
Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-NYA.
Lauk Semalam Sisa? Cobain Resep Ini
Kemarin saya ada cerita tentang salah satu masakan favorit; tongkol suwir tumis pedes. Biasanya dulu resep ini saya eksekusi untuk lauk yang nggak habis semalam. Hehe. Maksudnya siih biar hemat gitu, tapi juga gak ngebosenin.
Tapi bisa banget kok diaplikasiin ke ikan yang baru.
Resepnya mudah aja.
Saya gak pake takaran tapi yaa, se-feeling-nya aja. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan dan kesukaan. Oke?
Yuuk, eksekusi.
Tongkol yang sudah digoreng setengah atau 3/4 matang atau sisa lauk semalam, suwir-suwir. Jangan lupa dibuang tulangnya, supaya ntar nggak berubah jadi kucing gara-gara kemakan tulang 🤭
Tumis bamer, tomat, cabe yang sudah dirajang halus. Cabe boleh yang merah aja, ijo aja atau kombinasi keduanya. Saya pribadi lebih suka banyakin yang ijo.
Yang mau nambahin daun salam dkk boleh. Kalo saya sih sukanya daun temuru, wanginya khas dan bikin makanan enak.
Kalo suka pedes boleh nambah rawit sesukanya. Lumayan bikin joss dan seger lho kalo pas sakit kepala, pas makan trus kena "ranjau" rawit ini.
Nggak caya? Cobain.
Yang gak bisa makan pedes, don't try this at home yaa.
Oke, lanjuut.
Masukkan tongkol suwir ke dalam tumisan. Beri garam. Tambahkan penyedap rasa jika suka.
Taraa. Sudah matang. Enaknya disantap dengan nasi panas niih.
*Gambar ngambil di google 😁
Boleh ya intip nutrisi dan manfaat ikan tongkol di sini
Tulisan ini merupakan flashback setahun silam di akun facebook personal Lizanovia M. Hadi
Bertahan dengan Kecap
Siapa doyan kecap? Mau itu dijadikan bahan masakan ataupun penyedap saat makan bakso dkk. Mau kecap manis ataupun yang asin.
Please dijawab ya? Soalnya selain untuk bumbu rujak, saya nggak doyan. Pengen cari teman ni judulnya. 🤭
Pernah baca di mana gitu, asal mula sebutan kecap berawal dari zaman Hindia Belanda. Waktu itu bule -bule londo saling melempar tangkap botol saus sambil teriak "Catch up!" yang didengar oleh orang pribumi sebagai kecap.
.
.
.
.
Serius amat bacanya. Hahaha. Becanda. Bule londo ya pake bahasa Belanda dong.
Kata "kecap" diduga diambil dari bahasa Melayu Semenanjung dan dari bahasa Amoy kôechiap atau kê-tsiap.
Untuk detailnya, googling aja kalau penasaran. 😬
***
Sekarang kita menuju ke perairan Kolombia.
Di sana ada Mas Elvis Francois yang diselamatkan oleh Angkatan Laut karena informasi yang diberikan oleh awak pesawat. Awak tersebut melihat sinyal yang dibuat olehnya dengan menggunakan kaca yang dimiringkan ke arah matahari.
Francois yang malang terombang-ambing di lautan setelah pria dari Dominika, Kepulauan Karibia itu tersapu air laut karena cuaca buruk. Saat itu ia sedang memperbaiki kapalnya di lepas pantai, Desember 2022 lalu.
Selama 24 hari tak melihat daratan, tak punya teman bicara, dan hampir tak tahu berbuat apa lagi setelah usahanya menarik perhatian kapal-kapal yang lewat tidak berhasil. Pria itu teringat keluarganya dan nyaris kehilangan harapan.
Francois bertahan hidup dengan sebotol kecap, bubuk bawang putih, dan kaldu blok yang dicampur air.
Sumber berita ada di sini
***
Pengalaman Francois ini mengingatkan saya dengan kisah nyata serupa yang terjadi pada September 1983 silam. Kisah tragis Tami Oldham dan Richard Sharp tersebut dibukukan pada 1998. Sementara filmnya sendiri baru dirilis pada 2018 yang lalu; Adrift.
Buat kamu yang suka film roman petualangan, rekomendasi ni untuk ditonton.
Yang sudah nonton?
Nonton aja lagi kalau ada tisu. Hehe.
Boleh tuh sambil nyemil kerupuk dicocol kecap. #Eh
Sabang, 28 Januari 2023
Lizanovia M Hadi
Kapan Terakhir Kali Berolahraga?
"Kapan terakhir kali berolahraga?"
Saya akan tutup muka kalo ditanyain soal ini, apalagi kalo yang nanya orang kesehatan. "Ampuun," sambil meringis dan menyesal dalam hati.
Kalo olahraga itu seperti yang rutin saya kerjakan setahun yang lalu, maka bisa dibilang saya belum-belum ngelakuinnya lagi sampe saat ini. Niat sih ada, cuma pelaksanaannya aja yang sering menunda-nunda. Ampuun lagi dah.
Tapiii, kalo pekerjaan rumah tangga dihitung olahraga, saya pun ngga sedih-sedih amat lah. Hehehe
Olahraga memang nikmat dan mengasyikkan, juga bikin sehat pastinya. Setuju kan, Teman Setia?
Jadi keingat saya, dulu kalo lari sore-sore bela-belain ke "track" khusus yang lokasinya di sekitaran pesantren anak. Itu memang tempat favorit hampir semua orang sih. Ngga banyak kendaraan lewat. Udah gitu banyak pilihannya; mau jalan datar, menurun, menanjak? Bebas pilih. Kalo saya pilih tiga-tiganya. Meski ngga jarang jantung kayak mau copot.
Pernah sekali waktu saking berdebarnya ini jantung dan mau lepas ini kaki, saya berbaring begitu aja di pinggir jalan. Bukan lagi sekedar duduk kelelahan. Kondisi yang lagi haid ditambah nekad seperti biasa menjajal track menurun dan menanjak sekaligus yang mungkin jadi penyebabnya. Gemporlah saya! Tapi di haid berikutnya, badan ngga terkejut lagi euy!
Benar seperti kata keponakan tersayang, "Kita musti memaksa diri hingga sampe melewati batas kemampuan, Tante!"
Beberapa bulan kemudian, saat mendaki Sibuatan di Sumatera Utara lebaran tahun lalu. Saya membenarkan kata-kata si pecinta gunung ini (meski ikut terseok-seok di Sibuatan ya, Ta?😅) Medannya gila bener!
Olahraga memang nikmat dan mengasyikkan. Kapan terakhir kali kamu berolahraga?
Sabang, 20 Oktober 2020
Postingan ini saya repost dari postingan akun fb personal Lizanovia M Hadi di kelas optimasi Facebook LAAF
Sepotong Malam dari Balik Kisi
Foto ini saya ambil beberapa waktu lalu, di suatu malam yang cerah. Saat itu saya sedang mewakili sebuah yayasan untuk menyampaikan amanah para donatur dermawan di seluruh Indonesia.
Selesai sesi dokumentasi yang ramai, gembira dan sedikit lucu, saya mengamati jalanan yang lengang dari balik kisi-kisi balai pengajian nan sederhana, namun insya Allah penuh berkah ini.
Pemandangan yang begitu sederhana, tapi penuh nuansa yang mengingatkan saya akan latar menenangkan yang ada di buku-buku cerita.
Apakah kamu merasakan hal yang sama, Teman Setia?
MENS SANA IN CORPORE SANO
Mens sana in corpore sano
"Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat"
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
SERIBU RUPIAH
Siang tadi saat jam istirahat, saya mampir sebentar ke kedai yang menjual puding, jus dan salad.
Udah agak lama juga gak ngerasain produk homemade mereka yang alhamdulillaah cocok di lidah saya.
Saya pindai freezer, mencari puding varian coklat yang jadi kesukaan. Alhamdulillah, masih ada satu cup di rak paling bawah.
Saya ambil dan bawa ke kasir sembari mengeluarkan selembar hijau dua puluhan, tetapi mata masih melirik ke freezer yang memang dekat dengan kasir. Pengen salad buah juga nii.
Jadilah saya ambil satu cup dari rak. Saya buka dompet kembali mencari pecahan 7000. Ternyata uangnya nggak cukup, kurang seribu. Mau saya tukar dengan lembaran biru, tapi kasir yang juga ownernya menolak.
"Gapapa," katanya, sementara saya masih mengorek-ngorek dompet yang tebal lebih karena kertas entah apa aja. (Woyy, buka rahasia pula! 😆)
Baiklah. Alhamdulillah. Barakallah. Semoga Allah membalas seribu rupiah itu berkali-kali lipatnya.
Saya senang menemukan pedagang yang nggak perhitungan seperti ini. Memang benar, ketika kita menghargai uang kecil semisal nominal seribu rupiah, jika dikumpulkan sebanyak 100 lembar atau keping, tentu powernya sama dengan selembar merah dua tokoh proklamator.
Tapi di sisi lain, ketika kita nggak pelit dengan si kecil ini, bukan mustahil kita akan mendapatkan berkali lipatnya. Karena pembeli yang senang tentu akan kembali, hingga terjadilah repeat order alias pembelian yang berulang.
Di sisi lain, ada juga pedagang yang 500 rupiah pun nggak boleh kurang, pelitnya setengah mati. Tapi ketika lima ratus kita lebih di dia, oke-oke aja tuh. Dan besoknya kita malas beli lagi di dia.
Seribu rupiah bisa menjadi berkah dan sebaliknya, tergantung dari cara kita menyikapinya.
Ngomong-ngomong, ada yang tau nggak misteri dari kancing Pattimura yang dilingkari?
Sabang, 23 Maret 2022
Whatever you do, do it with 💕
Selasa Hujan, Selasa Berkah
Kelar apel pagi tadi, saya melipir bentar buat isi amunisi. Sarapan, karena senyuman saja nggak cukup untuk memulai hari dengan penuh harapan ya, kan?
Nggak lama, saya bersiap-siap starter motor kembali ke kantor, ketika tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh.
Saya lihat langit; gelap! Untungnya langit di hati nggak ikutan gelap. Saya menghitung-hitung apakah tepat untuk berangkat sekarang?
Melihat Niko yang sedang menikmati udara pagi tadi mencelat masuk rumah, saya pun segera melakukan hal yang sama.
Byuurrrrr. Segera saja hujan datang, seperti ditumpahkan dari ember besar di langit.
Saya raih hp, ceki-ceki Whatsapp dan memeriksa grup 21. Ada yang masih bingung dengan tema oloc (one love one comment) hari ini, ada yang sudah paham. Semangat yaa. Yuk kita bisa 😘
Syukurlah nggak lama hujan mereda. Saya raih jaket kesayangan dari cantolan, lanjut mendorong si tua magenta setelah mengelap bodi atasnya sebentar. Air masih jatuh dari langit, mencium jaket dan sebagian wajah ini. Gerimis dikit gapapa lah.
Saya tembus gerimis yang ternyata sedikit menderas di perjalanan menuju kantor. Alhamdulillah selamat sampai di tujuan.
Seperti hujan yang kadang lebat kadang gerimis, seperti itulah rezeki yang datang menghampiri kita. Kadang banyak, kadang banyak banget. Hehe.
Yang penting tetap bersyukur yaa 😊
CAPPADOCIA No Way Home
Bunyi chat di salah satu marketplace (MP) elbookstoreid menanyakan buku Bisnis Logika Langit, di luar jam operasional toko. Untungnya masih jam patroli batman.
Karena 3 hari lalu pusat sedang stok opname, jadilah saya teruskan info tersebut ke cabuy alias calon buyer. Serta kabar bahwa buku couplepreneur itu bisa dimasukkan ke keranjang mulai pukul 10.00 WIB di hari ke-tiga Januari.
Bayangkan kalau sampai 11 Januari mengikuti kenangan Gigi, saya bisa karatan, cabuy apalagi.
Ciee, ketahuan niih yang baca sambil bersenandung dalam hati.
...
Pagi tadi setelah cek web, saya mengabari kepastian tersebut kepada si cabuy tadi.
~~~
Memroses pesanan lewat MP dalam beberapa hal memang lebih efektif buat reseller seperti saya. Efektif dalam hal chit chat yang biasanya lebih to the point.
Beda 'kan kalau kita chat? Bisa jadi ada cerita ke Cappadocia sembari ikutan screaming virtual "It's my dream, Mas. Not hers!"
Saya pernah tuh mencoba menyelipkan hal lucu di kolom chat MP dengan status saya sebagai pembeli. Dianggurin, euy!
Lagian, eksperimen kok aneh-aneh juga. 😌
Di sisi lain, ada kewajiban yang nggak boleh dilewatkan seller di MP. Kalau via chat apalagi sama temen, hampir nggak ada yang minta resi.
Di MP? No resi, mati! Itulah kenapa saya menambahkan waktu PO 2 hari untuk mengantisipasi pembatalan otomatis. Juragan MP pasti paham betul ini.
~~~
Setiap channel penjualan punya kelebihan dan kekuatan serta kekurangan dan kelemahannya masing-masing. Tinggal kitanya aja mau pakai yang mana, dan mesti siap dengan segala tanggung jawabnya.
Seperti kata aunt May-nya Peter Parker,
“Dengan Kekuatan Besar, Muncul Tanggung Jawab Besar.”
Weh Island, 3 Januari 2022
Whatever you do, do it with love
Lizanovia M. Hadi
Hujan: Selamat Datang, Januari!
Setiap hujan turun, dua perasaan datang melingkupi saya sekaligus; bahagia dan was-was.
Bahagia, karena bagi saya rain makes everything better. Hujan selalu menghadirkan perasaan-perasaan yang terakumulasi menjadi rangkaian aksara. Ketika kemarau lama bertandang, sentuhan air langit pada wajah bumi menciptakan sensasi khas yang selalu mampu membuat mata terpejam dan menghidu aromanya; petrichor.
Dan bukankah hujan itu membawa berkah?
Manusialah yang acapkali mengubah berkah menjadi musibah.
Lalu, perasaan was-was?
Kalau hujan sudah terlalu lebat, saya takut selokan di depan rumah jebol, yang artinya rumah kami akan banjir lokal.
Teringat beberapa tahun silam rumah kami beberapa kali mengalami banjir, meski "hanya" bagian ruang tamu dan sebagian kamar belakang. Tahun terakhir malah kamar saya ikut kena icip lidah air meski (lagi-lagi) "hanya" sebagian depan pintu ke dalam.
Kurang lebih dua jam saya berdua kakak berjibaku menguras air waktu itu, tengah malam dimana orang sedang lelap-lelapnya. Sesekali kakak keluar rumah dengan payung di tangan - yang sebenarnya tak terlalu membantu karena begitu lebatnya air tercurah, membersihkan selokan dari sampah-sampah bawaan hujan yang turut menyumbang luapan air.
Alhamdulillah di antara kepenatan itu, terselip kenangan yang meski bikin panik saat kejadian, saat diingat-ingat selalu sukses melengkungkan kedua sudut bibir ke atas.
Klara, atau kami biasa memanggilnya Ala. Mahluk empat kaki berbulu satu itu begitu penasaran dengan genangan air. Kalau tidak segera diraih waktu itu, bisa dipastikan kucing 𝘨𝘦𝘮𝘰𝘺 itu sudah mempraktikkan bagian kedua peribahasa "berenang-renang ke tepian" entah sukses atau tidaknya.
Weh Island, 01-01-2022
Sekali Lagi Tentang Kehilangan
Semalam, saya bertakziah ke rumah tetangga. Ia kehilangan bayinya sesaat setelah melahirkan. Si bayi segera dibawa pulang, sementara ibunya masih ditahan di rumah sakit.
Saat menyaksikan bayi mungil nan tampan yang seperti tidur itu dikafani, saya tak sanggup menahan mata yang berkaca. Meski belum pernah kehilangan bayi, tapi saya tahu bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang dicintai, dari orang tua, saudara kandung, saudara jauh hingga sahabat. Kehilangan bayi tentu lebih berat lagi rasanya, apalagi bagi tetangga saya yang tidak bisa melihat putranya untuk terakhir kalinya itu. Baru tadi pagi saya dengar kabar si ibu baru dipulangkan malam itu juga, setelah buah hatinya dikebumikan.
Pengalaman semalam mengingatkan saya akan kisah seorang ibu muda yang juga kehilangan bayinya. Bukan saat melahirkan, tapi saat sudah 2,5 bulan. Tapi kehilangan tetaplah kehilangan, 'kan?
Muri Handayani kehilangan putrinya yang saat itu sedang lucu-lucunya, yang sangat dinanti-nanti kehadirannya.
Mundur ke masa-masa sebelumnya, saat ia dipaksa resign dari perusahaan tanpa pesangon, karena kehamilannya. Keadaan ekonomi yang minus saat itu membuatnya tidak merasakan keistimewaan yang seharusnya didapatkan seorang calon ibu, karena harus berjuang bersama suami untuk menjemput rezeki.
Rasa sakit kehilangan bayi ditambah kesedihan masa kecilnya yang kemudian membuat Muri memegang teguh visi hidupnya; me-resign-kan ibu rumah tangga yang masih bekerja di luar rumah, namun tetap berkarya dan menghasilkan dari rumah. Untuk itulah SBO atau Sekolah Bisnis Online didirikan, setelah sebelumnya sempat gulung tikar di 6 bisnisnya, dan baru berhasil saat merintis RAZHA, produsen inner hijab.
Gulali, SAO (Sekolah Admin Online), YUUKA Indonesia dan YUUKA Factory, adalah bisnis berikutnya yang didirikan oleh perempuan kelahiran Jakarta ini menemani keseharian Muri Handayani ketika menunggu anak-anaknya pulang dari sekolah.
Muri Handayani awalnya tidak suka menulis tapi bisnis memaksanya untuk belajar copywriting demi pemasaran produknya yang dilakukan secara online. Hingga kemudian melahirkan 5 buku yang mengemban visinya membantu ibu rumah tangga berkarya dari rumah; Emak-Emak Jago Jualan, Resep Ampuh Membangun Sistem Bisnis Online, Mudahnya Bikin Laporan Keuangan Bisnis Online, Creativepreneur. Buku terbaru beliau Move On, Mak! yang membuat saya melahirkan tulisan ini.
Kehilangan tidak membuatnya menyerah. Kehilangan menempanya untuk maju dan bertekad membantu sesama.
14 November 2020
Late post setahun yang lalu di kelas LAAF Facebook
AKU DAN TOMAT Behind The Scene
Hai. Lama tak berjumpa 🥰
Terakhir posting Januari lalu, itu artinya kurang lebih 8 bulan saya tak menarikan jari-jari di sini. Aaahhh... Begitu banyak rasa dan kata terpendam, sebenarnya. Namun takluk oleh ketaksanggupan saya me-manage waktu dan kerap terburu.
I don't want to say I am busy. Coz it will be an excuse 🥲
Baiklah. Untuk memulai lagi, saya akan berbagi kegiatan hari ini, khususnya aktivitas motret di kelas Phonephotography batch 17 oleh Jempol Kreatif Squad (JKS).
Di kelas motret JKS hari ini, kami mendapat tugas motret dengan tema tomat atau stroberi yang dibuat negative space, setelah dua hari sebelumnya tema cake dan es krim.
Pokoke batch kali ini diajak nganan kita ama mentor 😁
Oya, yang belum tau apa itu negative space, boleh googling yaa 😊
Sejak pagi saya sudah mengintip grup diskusi sebenarnya, melihat sekilas teman-teman yang setor hasil "kakean polah" masing-masing untuk dikoreksi mbak mentor.
Seperti biasa, saya harus sabar menunggu break time makan siang.
Apalah daya, saat pulang kantor pas waktunya tiba, rasa kantuk begitu kuat menyerang. Setelah salat dhuhur, auto tepar badan ini di atas bangku kayu ruang tamu.
Kenikmatan itu sungguh tak mengenal ruang dan waktu.
Saya baru terbangun saat ada ketukan di pintu sembari ucapan salam, yang rupanya orang mengantar berkat. Setelahnya ya tidur lagi. Hehe. Baru akhirnya benar-benar terbangun dalam keadaan pusing dan teringat tugas motret hari itu.
Setengah hati udah berniat bolos karena kepala yang masih terasa "goyang", tapi ketika mbak mentor bilang di grup,
"Udah. Coba aja..."
Saya buka kulkas, mencomot beberapa tomat. Kalender dari gantungan dicopot untuk dipakai belakangnya sebagai alas dan background.
Nggak lupa tomatnya saya percik air.
Saya coba motret 1 tomat, kok aneh?
Saya pakai 3 tomat dan masukkan ke dalam wadah kaca, kok nggak cocok?
Langsung teringat rok hitam yang kemarin sempat saya pakai juga untuk background. Pengen ketawa sebenernya. Duuh, propertiku kok gini banget siih 😅
Karena waktu saya nggak banyak, juga masih pusing sebenarnya, proses motret aka "kakean polah" yang jadi tagline mbak mentor, kali ini lebih singkat dari biasanya.
Proses pilih font untuk quotes juga ngga se-rempong biasanya. Pokoknya kejar setoran banget dah.
Beberapa kali ikut kelas JKS, saya biasanya menggunakan quote saya sendiri. But this time I have no time to think about that. So, saya search lah quote tentang tomat. Wkwk
And this is what I found.
Saking buru-burunya, saya nggak sempat mencari orang di balik layar yang ternyata Brian O'Driscoll, mantan pemain rugby internasional Irlandia. Brian yang kelahiran 21 Januari 1979 mengatakan kutipan itu saat sesi wawancara pasca menghadapi Inggris di Six Nations Championship yang sebenarnya adalah bagian dari taruhan dengan Gordon D'Archy, sesama pemain rugby di tim Leinster.
So, what do you think about his quote?
2020, Selamat Tinggal...
Kau beri asa di awal mula
Tatanan hidup kami tak lagi sama
Ragam aturan baru dibuat membuat kami sekejap tergagap
tak sedikit dari kami yang menjerit
Kematian menjadi begitu dekat,
memisahkan kami dengan kerabat dan sahabat
Bersyukur karena iman semua bisa terlewati
Meski kau seperti tak pandang rupa
Do'a dan harap di hati kami tak pernah sirna
semua akan kembali indah seperti semula
Terima kasih atas semua pelajaran
Kuharap kisah pahit ini hanya ada denganmu
Biarkan kami menyongsong hidup yang baru
Sabang, 31 Desember 2020
A To Z Serunya Kopdaran | Sahabat Pena dan Sahabat Online
Di day 5 LAAF Batch 15 beberapa hari kemarin, saya sempat cerita tentang kenangan kopdar alias kopi darat pertama dengan teman facebook. Kenangan yang begitu membekas meski telah berlalu sekian tahun, hingga saya baru tersadar kalau sudah pernah menulis hal yang sama beberapa bulan sebelumnya, masih di kelas optimasi facebook alias LAAF (Learn All About Facebook) yang sudah saya ikuti selama 5 batch ini.
Kalau diingat-ingat, ada beberapa kali kenangan kopdar yang ngga akan pernah saya lupakan.
Pertama kopdar dengan sahabat pena pertengahan Februari 97 (ampuuun, oldis bangeeet yaak). Rencana sebelah pihak aja ini sebenarnya, karena yang dituju belum tahu. Kebetulan waktu itu pas lagi main ke Banda Aceh ama sohib kentalku Ariyani. Pikir-pikir, kenapa ngga sekalian kopdar ya, kan? Dulu sih belum ada istilah kopdar, kita bilangnya ketemuan haha. Oiya, nama sahabat penaku ini Vivi.
Muter-muter kami bertiga bersama sepupunya mencari alamat sahabat penaku ini. Mana kita diturunin becak masih jauh dari alamat lagi. Alhasil jalan kakilah kami sepanjang jalan kenangan. Santuy aja siih, mengingat saat itu jalan kaki adalah hal yang biasa untuk anak Sabang yang betisnya udah serupa betis abang becak kayak kami ini. Hahaha. Alias kuat jalan, gaes.
Singkat cerita kami sampai di sebuah kedai, lalu mampir dan menanyakan alamat dimaksud. Di saat yang bersamaan, kami melihat papan nama jalan di ujung lorong. Setelah mengucapkan terima kasih, semangat 45 lah kami masuk ke lorong itu. Mengetuk pintu rumah nomor 1. Dan ternyataaaa....
Kata yang punya rumah, rumah Vivi sahabatku yang di belakang kedai tadi. Ampuuun wkwkwk
Kembalilah kami ke kedai tadi.
"Lho, kok balik?" tanya bapak yang tadi kami tanyain.
Meski ragu, saya bertanya juga,
"Rumah Vivi Rahma Eka Herawaty di mana ya, Pak?"
"Ya di sini!" belum lagi menarik nafas lega,
"Tapi Vivi-nya ngga ada. Belom sampe di rumah" lanjut si bapak yang ternyata bapak temanku itu.
Rupanya Vivi lagi dalam perjalanan dari Meulaboh ke Banda Aceh.
Yaaa.... kecewa kan penonton. Apalagi kita kehausan banget waktu itu wkwkwk.
Akhirnya kita pulang dengan kerongkongan kering. Naseeeeb.
Syukurlah di minggu ke empat Februari kopdar-an ama Vivi sukses. Kali ini ditemani oleh Bang Ikhsan. Kami ngobrol sambil haha hihi nyeritain apa aja.
"Tengkyu ya, Bang, udah rela jadi obat nyamuk kami waktu itu. Hehe"
Waktu itu saya ke Banda lagi karena ikut Cerdas Cermat Kadarkum mewakili Sabang ke Provinsi Aceh. Kelar dari sana langsung mampir dan nginap di rumah Bunda, ibunya Bang Ikhsan yang sudah kuanggap seperti abang sendiri. Abang yang sadis, karena pernah ngetok kepalaku pake centong dulu. Belum lagi suka nyulik kedua abangku buat main.Makanya saya balas dendam jadiin dia obat nyamuk. Weeek.
Kopdar berikutnya ama sahabat pena juga. Kak Lilid namanya. Beliau ini kakak sepupu Yuni teman sekelasku. Kita ketemuannya di rumahku di Sabang. Ingat banget waktu itu, kita ngobrolnya di depan lemari bukuku di ruang tamuku yang mungil.
Intinya, dari pertemuan inilah kak Lilid seneng berteman denganku (acieee) dan kita lanjut dengan berkirim surat. Mudah-mudahan Iza ngga salah ingat ya, Kak Lilid #smile
Ada lagi kopdar ngga terduga yang kocak. Yang datang itu temen pena juga. Doinya mondok di pesantren di Seulimum, Aceh Besar. Awal kita sahpenan karena kenal dari buletin sahabat pena. Pada masa itu saya ikut nerbitin buletin serupa yang edar hingga ke mancanegara. Oya, BUMI nama buletinnya.
Sesama publisher Aceh, saling bertukaran terbitan dong ya, kami. Kenal lah dengan teman saya ini, Zulfikar namanya. Awal ngirim surat dia ngaku-ngaku anak perempuan. Makanya saya sempat shock saat menerima suratnya yang ke sekian dan tetiba fotonya yang membuka rahasia terjatuh dari amplop wkwkwkwk. Masih ingat banget waktu itu kejadiannya di ruang tamu di rumah yang baru.
Pas datang ke Sabang kemudian, Zul ngga sendiri. Tapi bareng dua temannya, Amir dan Muhalba. Waktu itu pas ada acara kunjungan tokoh agama atau apa gitu di Sabang, dan mereka ikut sebagai partisipan. Lupa saya.
Yang kocak dari pertemuan kami ini, Zul yang sahabat pena saya, tapi yang langsung akrab ngobrol malah Muhalba temennya. Ngobrolnya kayak yang udah kenal lama pula. Seruuu. Cuma Amir yang agak pendiam. Kata kedua kawannya, "Dia alim, ngga kayak kami" wkwkwk. Bocor alus.
Duo ini sempet pepotoan ama kedua kakak saya di depan rumah kami. Saya ngga mau ikut hahaha
| Zul (berdiri), Muhalba (duduk), peu haba? |
Kopdar di masa-masa bekerja lain pula ceritanya. Saya pernah ketemuan dengan teman FB sekaligus downline di Oriflame dulu. Ngga pake rencana. Dianya pas lagi tugas dinas ke kota saya. Ditelpon di tengah jam kerja (yang untungnya ngga lagi crowded) saya langsung meluncur ke tempat janjian. Tau ngga di
mana? Di kantor pos! hahaha. Itu adalah pertemuan tersingkat saya
sepanjang sejarah. Kami hanya sempat ngobrol beberapa menit.
Alhamdulillaah ada kenangan yang tersimpan tentang itu.
| Saya (kiri) Novita (kanan) |
Pernah juga kedatangan teman sesama publisher. Kedatangannya yang pertama, kita ngga ketemu karena saya baru saja berangkat ke Medan waktu itu. Kedatangan yang kedua dia membawa serta istrinya, pas bulan madu. Sempat tukaran nomor telepon waktu itu. Sayangnya saya kok lupa namanya ya? Maafkan saya, kawan.
Ada juga kopdaran yang diam-diaman. Dia ini sahabat pena saya juga. Datang ke rumah saya bareng temennya tapi ngga berani ngomong. Nunduuk teruuss. Kecanggungan itu makin rikuh karena disaksikan almarhumah ibu waktu itu.
Saat pamit dia baru ngasih surat yang ternyata isinya kalau dianya ada rasa. Kan bersenandung saya jadinya.
"Sahabat pena aku cinta padamuuuu"
Saya ngga begitu ingat, sebelum atau sesudah itu saya ketemu (lagi) si sahabat pena yang punya rasa ini di tempat kerja. Agak ngga yakin awalnya apa iya itu dia.
"Apakah itu dia? Apakah itu cinta?"
Nah kaan, jadi nyanyi lagi.
Sampai akhirnya saya yakin itu dia, dan saya sapa.
Maaf ya, Z. Saya ngga begitu ingat tentang ini.
Yang paling heboh adalah saat kedatangan teman online dari Russia. Catatan mentah atau versi blognya pernah saya tuliskan di sini. Empat hari setelahnya saya bikin versi matengnya wkwkwk. Awalnya posting di catatan Facebook personal. Tapi di 2016 saya posting ulang di Facebook Fanpage saya Lizanovia M. Hadi
Syukurlah karena ngga lama setelah itu facebook notes ngga bisa disearch dan akses lagi, kan? Kecuali kalau kita sudah pernah save link catatan-nya.
Masih ada beberapa kopdaran lainnya.
Saat ini, kalau ditanya pengen kopdaran dengan siapa, ada beberapa nama yang tersimpan dalam benak.
Pertama, pengen banget kopdaran dengan cintaku mba Sugii alias Erna Sugiarti alias mba Deziiing di Jakarta. Selama ini cuma video call-an aja kita ya, mba? Ingin ku di saatnya nanti ketika pandemi ini pergi, bisa datang ke ibukota menemui dirimu dan emak. Tolong jangan dezing aku yaa, kalau kita berjumpa kelak. Suguhi aja Ciomy Jando. Wkwkwk. Maunyaaa..
Yang kedua, pengeen banget bisa kopdaran dengan dua sahabat penaku yang kini jadi sahabat FB. Yang satu Kang Johan di Jogja, satunya lagi sis Rahma di Raha, Sulawesi Tenggara. Cita-cita kita dulu bisa kopdaran berempat dengan Kak Nun ya, kan? Tapi ternyata Allah telah memanggilnya lebih dulu. Allahumma firlaha warhamha...
Kedua sahabat pena ini sudah terhubung sejak zaman saya sekolah dan mereka belum menikah. Surat-surat kalian masih saya simpan lho, Saudaraku.
Kalau mba Sugi, kenal ama dia ini pas di kelas BOW (Bimbingan Optimasi Whatsapp) dulu. Dia jadi PJ alias Penanggung Jawab grup yang hobinya dezingin peserta yang ngga setor tugas. Wkwkwk. Tapi itu casing-nya doang, aslinya dia baik kok, terutama kalo pas ngirim Ciomy wkwkwk #deziiing
Well, begitulah cerita kopdaranku. Kalo ceritamu gimana, Kawans?
Tsunami Aceh dan Kepingan Puzzle
Thank you for the video. This remind me, warn me that every of us have the sad story. So I am not the only one who feel grieve. Btw, he was the one who saved me on the surgery a few years ago. Seeing this video show me the other side of every human being. Very sad but inspiring
























