Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Kapan Terakhir Kali Berolahraga?

quote-olahraga


"Kapan terakhir kali berolahraga?"

Saya akan tutup muka kalo ditanyain soal ini, apalagi kalo yang nanya orang kesehatan. "Ampuun," sambil meringis dan menyesal dalam hati.


Kalo olahraga itu seperti yang rutin saya kerjakan setahun yang lalu, maka bisa dibilang saya belum-belum ngelakuinnya lagi sampe saat ini. Niat sih ada, cuma pelaksanaannya aja yang sering menunda-nunda. Ampuun lagi dah. 


Tapiii, kalo pekerjaan rumah tangga dihitung olahraga, saya pun ngga sedih-sedih amat lah. Hehehe


Olahraga memang nikmat dan mengasyikkan, juga bikin sehat pastinya. Setuju kan, Teman Setia?


Jadi keingat saya, dulu kalo lari sore-sore bela-belain ke "track" khusus yang lokasinya di sekitaran pesantren anak. Itu memang tempat favorit hampir semua orang sih. Ngga banyak kendaraan lewat. Udah gitu banyak pilihannya; mau jalan datar, menurun, menanjak? Bebas pilih. Kalo saya pilih tiga-tiganya. Meski ngga jarang jantung kayak mau copot. 


Pernah sekali waktu saking berdebarnya ini jantung dan mau lepas ini kaki, saya berbaring begitu aja di pinggir jalan. Bukan lagi sekedar duduk kelelahan. Kondisi yang lagi haid ditambah nekad seperti biasa menjajal track menurun dan menanjak sekaligus yang mungkin jadi penyebabnya. Gemporlah saya! Tapi di haid berikutnya, badan ngga terkejut lagi euy!


Benar seperti kata keponakan tersayang, "Kita musti memaksa diri hingga sampe melewati batas kemampuan, Tante!"


Beberapa bulan kemudian, saat mendaki Sibuatan di Sumatera Utara lebaran tahun lalu. Saya membenarkan kata-kata si pecinta gunung ini (meski ikut terseok-seok di Sibuatan ya, Ta?😅) Medannya gila bener! 


Olahraga memang nikmat dan mengasyikkan. Kapan terakhir kali kamu berolahraga? 

Sabang, 20 Oktober 2020

Postingan ini saya repost dari postingan akun fb personal Lizanovia M Hadi di kelas optimasi Facebook LAAF

Share:

Sepotong Malam dari Balik Kisi

suasana-malam-dari-balik-kisi

Foto ini saya ambil beberapa waktu lalu, di suatu malam yang cerah. Saat itu saya sedang mewakili sebuah yayasan untuk menyampaikan amanah para donatur dermawan di seluruh Indonesia.


Selesai sesi dokumentasi yang ramai, gembira dan sedikit lucu, saya mengamati jalanan yang lengang dari balik kisi-kisi balai pengajian nan sederhana, namun insya Allah penuh berkah ini.


Pemandangan yang begitu sederhana, tapi penuh nuansa yang mengingatkan saya akan latar menenangkan yang ada di buku-buku cerita.


Apakah kamu merasakan hal yang sama, Teman Setia?

Share:

MENS SANA IN CORPORE SANO

quote-dukungan-kepada-teman

Masih ingat dengan kalimat itu?

Saya jadi terkenang masa-masa SD saat frasa dalam bahasa Latin itu ada di buku teks pelajaran Pendidikan Jasmani. Atau yang lebih sering kita singkat dengan Penjas

Well, singkat menyingkat dalam hal apa pun sepertinya memang sudah mendarah daging sejak dulu kala. Karena lebih ringkas, lebih enak ngucapinnya, dan lebih banyak lagi kosa kata kaya yang terlahir dari lisan kita setiap harinya. (Kalo ini sih spesialisnya perempuan. Haha) 

Yang penting jangan sampai menyingkat do'a aja yaa. #selfreminder

Oke, lanjuut!

Mens sana in corpore sano

"Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat"

Adalah Decimus Junius Juvenalis sang pencetusnya, seorang penyair Romawi yang lebih dikenal sebagai Juvenal yang juga penulis karya sastra Satires.

Guru-guru kita dulu kerap menyampaikan frasa itu tentunya dengan tujuan baik, agar kita mau berolahraga untuk menjaga kesehatan jasmani. 

Sebab dengan tubuh yang sehat, kita bisa beraktivitas dengan baik. 

Sebab dengan raga yang kuat, kita bisa beribadah dengan baik. 

Dan segala aktivitas yang diniatkan memberi manfaat untuk sesama, sesungguhnya juga bernilai ibadah.
.
.
.
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. 

Begitulah harapannya.

Kenyataannya enggak selalu seperti itu. 

Dan ada beraneka ragam hal yang membuatnya enggak seperti itu.

Tugas kita bukanlah meributkan hal-hal yang terjadi saat realita tak sesuai ekspektasi. Apalagi sampai harus menghujat dan mencaci maki.

Kita enggak memakai sepatu mereka, Teman Setia. Kita enggak tahu bagaimana dan seperti apa rasanya kalau belum berada di posisi mereka.

Berhentilah menilai sampai jauh karena orang pun punya posisi yang sama untuk menilai kita. #selfreminderagain

Tugas kita adalah bergandeng tangan, saling memahami, memberi dukungan, melangitkan do'a-do'a untuk semua perempuan di dunia.

Memantaskan diri kita.

Agar di dalam tubuh yang sehat benar-benar terdapat jiwa yang kuat.
.
.
.
Sabang, 2 April 2022


 
Read my thoughts on YourQuote app here
Share:

SERIBU RUPIAH

Siang tadi saat jam istirahat, saya mampir sebentar ke kedai yang menjual puding, jus dan salad. 

Udah agak lama juga gak ngerasain produk homemade mereka yang alhamdulillaah cocok di lidah saya.

Saya pindai freezer, mencari puding varian coklat yang jadi kesukaan. Alhamdulillah, masih ada satu cup di rak paling bawah.

Saya ambil dan bawa ke kasir sembari mengeluarkan selembar hijau dua puluhan, tetapi mata masih melirik ke freezer yang memang dekat dengan kasir. Pengen salad buah juga nii.

Jadilah saya ambil satu cup dari rak. Saya buka dompet kembali mencari pecahan 7000. Ternyata uangnya nggak cukup, kurang seribu. Mau saya tukar dengan lembaran biru, tapi kasir yang juga ownernya menolak. 

"Gapapa," katanya, sementara saya masih mengorek-ngorek dompet yang tebal lebih karena kertas entah apa aja. (Woyy, buka rahasia pula! 😆)

Baiklah. Alhamdulillah. Barakallah. Semoga Allah membalas seribu rupiah itu berkali-kali lipatnya.

Saya senang menemukan pedagang yang nggak perhitungan seperti ini. Memang benar, ketika kita menghargai uang kecil semisal nominal seribu rupiah, jika dikumpulkan sebanyak 100 lembar atau keping, tentu powernya sama dengan selembar merah dua tokoh proklamator.

Tapi di sisi lain, ketika kita nggak pelit dengan si kecil ini, bukan mustahil kita akan mendapatkan berkali lipatnya. Karena pembeli yang senang tentu akan kembali, hingga terjadilah repeat order alias pembelian yang berulang.

Di sisi lain, ada juga pedagang yang 500 rupiah pun nggak boleh kurang, pelitnya setengah mati. Tapi ketika lima ratus kita lebih di dia, oke-oke aja tuh. Dan besoknya kita malas beli lagi di dia.

Seribu rupiah bisa menjadi berkah dan sebaliknya, tergantung dari cara kita menyikapinya.

Ngomong-ngomong, ada yang tau nggak misteri dari kancing Pattimura yang dilingkari?

Sabang, 23 Maret 2022

Whatever you do, do it with 💕

uang-seribu-rupiah


Share:

Aku, Nasgor Keju, dan Chef Renatta

nasgor-keju-cheff-renatta

Aku emang jarang masak, tapi sekalinya masak, nggak kalah ama Chef Renatta. #gayacombong 😎

Busyett! Chef Renatta tetiba datang!

Belum sempat kabur, do'i langsung menyambar sendok dan siap eksekusi.

"Wah, beneran nasi goreng nih..." 

Bodi yang tadinya mengkerut auto mengembang perlahan mendengar suaranya yang serupa untaian nada dari surga.

"Emang bener digoreng. Minyaknya kebanyakan!"

Belum lagi mengembang sempurna, tubuh ini mengempis seketika. Untunglah cuma mengempis, masih bisa ditiup supaya kembang kembali. Bayangkan kalo meletus!

Chef Renatta mengunyah pelan-pelan haskarku seraya berhenti sesekali, khas Chef.

"Lumayan pedas," ucapnya. "Kamu pake paduan apa aja untuk bumbunya?"

"Saya pakai bawang putih aja, Chef. Cabenya dari cabe pas beli ayam geprek. Hehe." Aku cengengesan.

Chef Renatta melotot sambil tetap tersenyum.

"Hemat bener kamu, ya!" 

Chef mengunyah sesuap lagi.


"Kamu pakai keju?" Chef membelalak.

"Iya, Chef." Aku bersiap-siap menerima petuahnya.

"Gak rata ini kamu aduknya. Sebagian pas, sebagian agak asin. Kamu mau kawin lagiii?"


Kali ini Chef Renatta melotot tapi tak tersenyum.

Dan aku pun meletus seketika!

Pulau Weh, 17 Maret 2022

Jokes malam

Share:

Featured post

Cara Mudah Bikin Blog dari Ponsel

Baru-baru ini ada beberapa teman yang meminta dibikinkan tutorial cara bikin blog yang mudah tanpa mesti menggunakan komputer alias dari...

Paling Banyak Dibaca

Arsip

Kelas 30 Hari Optimasi Whatsapp & Facebook