PILKADA 2024 Momen Pertama Gen Z Memilih
RUMAH KARANG Sejuta Kenangan
Siang tadi saya pergi kondangan di daerah rumah lama masa SMP hingga awal SMA dulu. Meski sering lewat daerah ini, tapi nggak sampai ke dalam-dalamnya. Makanya baru tadi saya melihat kembali peninggalan rumah tempat tinggal kami sekeluarga dulu.
Rumah Karang, begitu dulu kami nyebutnya, karena memang berdiri di atas karang, dengan posisi lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya. Kini hanya tinggal pondasi dan tangga batunya saja.
Banyak kenangan terukir di sana; tentang ibu, bapak, kehidupan bertetangga, persahabatan, hingga kenangan cinta monyet masa remaja.
Saya masih ingat betul, ketika malam tiba, saya akan belajar dibantu penerangan lampu teplok. Saat itu memang belum ada sambungan listrik. Bahkan untuk air pun kami sempat membayar ke tetangga, sebelum kemudian memasang sambungan PAM sendiri.
Saya belajar di ruang tengah yang juga merangkap ruang makan. Dengan meja merapat ke dinding, di kiri saya adalah ruang depan berdampingan dengan kamar pertama, di kanan saya ada pintu menuju dapur dan kamar mandi.
Di ruang tengah ini, di kiri belakang saya ada lemari pakaian, di kanan belakang ada lemari makan. Sementara di tengah-tengahnya adalah pintu kamar kedua yang memuat dua ranjang dan satu lemari pakaian.
Rumah Karang ini begitu kecil, tapi kami hidup bahagia di sana, meski seringkali pas-pasan dalam segalanya.
Malam hari selepas waktu maghrib ataupun isya, kami akan duduk di tangga batu. Bercengkrama bersama tetangga sebelah, sembari mendengarkan sandiwara radio yang jadi favorit masa itu. Rumah ini memang terdiri atas 2 pintu yang dihuni 2 keluarga.
Dari tangga batu ini pula saya suka menyaksikan bintang bertaburan bagai permata di langit malam. Ketika mengingat pelajaran di sekolah, saya akan mencari-cari di mana rasi bintang biduk, layang-layang maupun scorpio.
Kebahagiaan menatap langit malam kala itu sungguh tak bisa dibandingkan dengan menatap gadget hari ini.
Ada rasa luas, ada rasa lapang di jiwa.
Ada banyak kenangan tertinggal, ada banyak untaian aksara tercipta di sana.
Bahkan puisi tentang kepulangan ke negeri akhirat saya tuliskan di Rumah Karang ini, tepat sehari sebelum kepergian bapak dan abang tercinta dalam tragedi tenggelamnya KMP Gurita.
Rumah Karang memang tinggal pondasi dan tangga batunya saja. Namun apa yang pernah terukir di sana, akan abadi selamanya.
Sabang, 11.11.2023
Untuk Bapak, Ibu, dan Abangku tercinta.
Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-NYA.
Lauk Semalam Sisa? Cobain Resep Ini
Kemarin saya ada cerita tentang salah satu masakan favorit; tongkol suwir tumis pedes. Biasanya dulu resep ini saya eksekusi untuk lauk yang nggak habis semalam. Hehe. Maksudnya siih biar hemat gitu, tapi juga gak ngebosenin.
Tapi bisa banget kok diaplikasiin ke ikan yang baru.
Resepnya mudah aja.
Saya gak pake takaran tapi yaa, se-feeling-nya aja. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan dan kesukaan. Oke?
Yuuk, eksekusi.
Tongkol yang sudah digoreng setengah atau 3/4 matang atau sisa lauk semalam, suwir-suwir. Jangan lupa dibuang tulangnya, supaya ntar nggak berubah jadi kucing gara-gara kemakan tulang 🤭
Tumis bamer, tomat, cabe yang sudah dirajang halus. Cabe boleh yang merah aja, ijo aja atau kombinasi keduanya. Saya pribadi lebih suka banyakin yang ijo.
Yang mau nambahin daun salam dkk boleh. Kalo saya sih sukanya daun temuru, wanginya khas dan bikin makanan enak.
Kalo suka pedes boleh nambah rawit sesukanya. Lumayan bikin joss dan seger lho kalo pas sakit kepala, pas makan trus kena "ranjau" rawit ini.
Nggak caya? Cobain.
Yang gak bisa makan pedes, don't try this at home yaa.
Oke, lanjuut.
Masukkan tongkol suwir ke dalam tumisan. Beri garam. Tambahkan penyedap rasa jika suka.
Taraa. Sudah matang. Enaknya disantap dengan nasi panas niih.
*Gambar ngambil di google 😁
Boleh ya intip nutrisi dan manfaat ikan tongkol di sini
Tulisan ini merupakan flashback setahun silam di akun facebook personal Lizanovia M. Hadi
Bertahan dengan Kecap
Siapa doyan kecap? Mau itu dijadikan bahan masakan ataupun penyedap saat makan bakso dkk. Mau kecap manis ataupun yang asin.
Please dijawab ya? Soalnya selain untuk bumbu rujak, saya nggak doyan. Pengen cari teman ni judulnya. 🤭
Pernah baca di mana gitu, asal mula sebutan kecap berawal dari zaman Hindia Belanda. Waktu itu bule -bule londo saling melempar tangkap botol saus sambil teriak "Catch up!" yang didengar oleh orang pribumi sebagai kecap.
.
.
.
.
Serius amat bacanya. Hahaha. Becanda. Bule londo ya pake bahasa Belanda dong.
Kata "kecap" diduga diambil dari bahasa Melayu Semenanjung dan dari bahasa Amoy kôechiap atau kê-tsiap.
Untuk detailnya, googling aja kalau penasaran. 😬
***
Sekarang kita menuju ke perairan Kolombia.
Di sana ada Mas Elvis Francois yang diselamatkan oleh Angkatan Laut karena informasi yang diberikan oleh awak pesawat. Awak tersebut melihat sinyal yang dibuat olehnya dengan menggunakan kaca yang dimiringkan ke arah matahari.
Francois yang malang terombang-ambing di lautan setelah pria dari Dominika, Kepulauan Karibia itu tersapu air laut karena cuaca buruk. Saat itu ia sedang memperbaiki kapalnya di lepas pantai, Desember 2022 lalu.
Selama 24 hari tak melihat daratan, tak punya teman bicara, dan hampir tak tahu berbuat apa lagi setelah usahanya menarik perhatian kapal-kapal yang lewat tidak berhasil. Pria itu teringat keluarganya dan nyaris kehilangan harapan.
Francois bertahan hidup dengan sebotol kecap, bubuk bawang putih, dan kaldu blok yang dicampur air.
Sumber berita ada di sini
***
Pengalaman Francois ini mengingatkan saya dengan kisah nyata serupa yang terjadi pada September 1983 silam. Kisah tragis Tami Oldham dan Richard Sharp tersebut dibukukan pada 1998. Sementara filmnya sendiri baru dirilis pada 2018 yang lalu; Adrift.
Buat kamu yang suka film roman petualangan, rekomendasi ni untuk ditonton.
Yang sudah nonton?
Nonton aja lagi kalau ada tisu. Hehe.
Boleh tuh sambil nyemil kerupuk dicocol kecap. #Eh
Sabang, 28 Januari 2023
Lizanovia M Hadi
Paperboy | Kisah Bocah Pengantar Koran
"Salah satu hal tersulit dalam hidup ialah memiliki kata-kata dalam hatimu yang tidak bisa kau ungkapkan."
- James Earl Jones, aktor.
Vince Vawter mengawali dengan ungkapan di atas sebagai catatan di akhir buku yang ditulisnya; Paperboy.
Buku yang sebenarnya lebih merupakan kisah Vawter sendiri yang juga sebagaimana Jones, menderita speech disorder alias gagap saat berbicara ketika ia kecil.
Saya membeli buku ini untuk konsumsi MKZ si semata wayang sebenarnya. Tapi sebagai seorang bookslover, mana mau saya melewatkannya begitu saja?
Beberapa bab awal buku ini agak terkesan membosankan bagi orang-orang yang picky dengan bacaan seperti MKZ.
Saya pun termasuk pemilih juga sebenarnya, tapi sesuatu dalam buku ini membuat saya terus melanjutkan membacanya.
Dari sudut pandang seorang anak kecil kelas tujuh yang melompat tiga kelas saat ia di kelas satu, buku ini bercerita tentang keseharian seorang bocah lelaki kulit putih di Memphis, negara bagian Tennessee, Amerika Serikat.
Berlatar tahun 1959 dimana diskriminasi terhadap penduduk kulit hitam masih sangat kental waktu itu, Victor sang bocah justru sangat dekat dengan pengasuhnya yang berkulit hitam dan ia panggil Mam, sementara wanita kuat itu menyebutnya Pria Kecil.
Sebuah kecelakaan yang tak sengaja Pria Kecil sebabkan membuatnya harus menggantikan sebuah pekerjaan sebagai pengantar koran.
Dan dari sana lah kisah seorang bocah gagap dimulai.
***
Vince Vawter menuliskan kisahnya dengan cara yang unik dan berani menurut saya. Alur cerita yang sedikit membosankan di beberapa bab awal, namun ketika saya sabar membacanya justru memberikan kejutan yang bikin penasaran.
Ending kisah ini memberi banyak pelajaran tentang bagaimana kita menilai orang lain dari sudut pandang Vawter kecil. Juga sikap optimis bahwa setiap kekurangan diikuti dengan banyak kelebihan. Bahwa setiap kekurangan dapat diatasi dengan kegigihan.
Sebagaimana Jones sang aktor yang mampu mengendalikan gagapnya dan mengubah suaranya menjadi menakjubkan (sebagai pengisi suara iklan mau pun karakter film), Vawter pun berhasil di dunia penerbitannya selama 40 tahun.
Sabang, 9 April 2022
Kapan Terakhir Kali Berolahraga?
"Kapan terakhir kali berolahraga?"
Saya akan tutup muka kalo ditanyain soal ini, apalagi kalo yang nanya orang kesehatan. "Ampuun," sambil meringis dan menyesal dalam hati.
Kalo olahraga itu seperti yang rutin saya kerjakan setahun yang lalu, maka bisa dibilang saya belum-belum ngelakuinnya lagi sampe saat ini. Niat sih ada, cuma pelaksanaannya aja yang sering menunda-nunda. Ampuun lagi dah.
Tapiii, kalo pekerjaan rumah tangga dihitung olahraga, saya pun ngga sedih-sedih amat lah. Hehehe
Olahraga memang nikmat dan mengasyikkan, juga bikin sehat pastinya. Setuju kan, Teman Setia?
Jadi keingat saya, dulu kalo lari sore-sore bela-belain ke "track" khusus yang lokasinya di sekitaran pesantren anak. Itu memang tempat favorit hampir semua orang sih. Ngga banyak kendaraan lewat. Udah gitu banyak pilihannya; mau jalan datar, menurun, menanjak? Bebas pilih. Kalo saya pilih tiga-tiganya. Meski ngga jarang jantung kayak mau copot.
Pernah sekali waktu saking berdebarnya ini jantung dan mau lepas ini kaki, saya berbaring begitu aja di pinggir jalan. Bukan lagi sekedar duduk kelelahan. Kondisi yang lagi haid ditambah nekad seperti biasa menjajal track menurun dan menanjak sekaligus yang mungkin jadi penyebabnya. Gemporlah saya! Tapi di haid berikutnya, badan ngga terkejut lagi euy!
Benar seperti kata keponakan tersayang, "Kita musti memaksa diri hingga sampe melewati batas kemampuan, Tante!"
Beberapa bulan kemudian, saat mendaki Sibuatan di Sumatera Utara lebaran tahun lalu. Saya membenarkan kata-kata si pecinta gunung ini (meski ikut terseok-seok di Sibuatan ya, Ta?😅) Medannya gila bener!
Olahraga memang nikmat dan mengasyikkan. Kapan terakhir kali kamu berolahraga?
Sabang, 20 Oktober 2020
Postingan ini saya repost dari postingan akun fb personal Lizanovia M Hadi di kelas optimasi Facebook LAAF
Sepotong Malam dari Balik Kisi
Foto ini saya ambil beberapa waktu lalu, di suatu malam yang cerah. Saat itu saya sedang mewakili sebuah yayasan untuk menyampaikan amanah para donatur dermawan di seluruh Indonesia.
Selesai sesi dokumentasi yang ramai, gembira dan sedikit lucu, saya mengamati jalanan yang lengang dari balik kisi-kisi balai pengajian nan sederhana, namun insya Allah penuh berkah ini.
Pemandangan yang begitu sederhana, tapi penuh nuansa yang mengingatkan saya akan latar menenangkan yang ada di buku-buku cerita.
Apakah kamu merasakan hal yang sama, Teman Setia?
MENS SANA IN CORPORE SANO
Mens sana in corpore sano
"Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat"
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
SERIBU RUPIAH
Siang tadi saat jam istirahat, saya mampir sebentar ke kedai yang menjual puding, jus dan salad.
Udah agak lama juga gak ngerasain produk homemade mereka yang alhamdulillaah cocok di lidah saya.
Saya pindai freezer, mencari puding varian coklat yang jadi kesukaan. Alhamdulillah, masih ada satu cup di rak paling bawah.
Saya ambil dan bawa ke kasir sembari mengeluarkan selembar hijau dua puluhan, tetapi mata masih melirik ke freezer yang memang dekat dengan kasir. Pengen salad buah juga nii.
Jadilah saya ambil satu cup dari rak. Saya buka dompet kembali mencari pecahan 7000. Ternyata uangnya nggak cukup, kurang seribu. Mau saya tukar dengan lembaran biru, tapi kasir yang juga ownernya menolak.
"Gapapa," katanya, sementara saya masih mengorek-ngorek dompet yang tebal lebih karena kertas entah apa aja. (Woyy, buka rahasia pula! 😆)
Baiklah. Alhamdulillah. Barakallah. Semoga Allah membalas seribu rupiah itu berkali-kali lipatnya.
Saya senang menemukan pedagang yang nggak perhitungan seperti ini. Memang benar, ketika kita menghargai uang kecil semisal nominal seribu rupiah, jika dikumpulkan sebanyak 100 lembar atau keping, tentu powernya sama dengan selembar merah dua tokoh proklamator.
Tapi di sisi lain, ketika kita nggak pelit dengan si kecil ini, bukan mustahil kita akan mendapatkan berkali lipatnya. Karena pembeli yang senang tentu akan kembali, hingga terjadilah repeat order alias pembelian yang berulang.
Di sisi lain, ada juga pedagang yang 500 rupiah pun nggak boleh kurang, pelitnya setengah mati. Tapi ketika lima ratus kita lebih di dia, oke-oke aja tuh. Dan besoknya kita malas beli lagi di dia.
Seribu rupiah bisa menjadi berkah dan sebaliknya, tergantung dari cara kita menyikapinya.
Ngomong-ngomong, ada yang tau nggak misteri dari kancing Pattimura yang dilingkari?
Sabang, 23 Maret 2022
Whatever you do, do it with 💕
Aku, Nasgor Keju, dan Chef Renatta
Aku emang jarang masak, tapi sekalinya masak, nggak kalah ama Chef Renatta. #gayacombong 😎
Busyett! Chef Renatta tetiba datang!
Belum sempat kabur, do'i langsung menyambar sendok dan siap eksekusi.
"Wah, beneran nasi goreng nih..."
Bodi yang tadinya mengkerut auto mengembang perlahan mendengar suaranya yang serupa untaian nada dari surga.
"Emang bener digoreng. Minyaknya kebanyakan!"
Belum lagi mengembang sempurna, tubuh ini mengempis seketika. Untunglah cuma mengempis, masih bisa ditiup supaya kembang kembali. Bayangkan kalo meletus!
Chef Renatta mengunyah pelan-pelan haskarku seraya berhenti sesekali, khas Chef.
"Lumayan pedas," ucapnya. "Kamu pake paduan apa aja untuk bumbunya?"
"Saya pakai bawang putih aja, Chef. Cabenya dari cabe pas beli ayam geprek. Hehe." Aku cengengesan.
Chef Renatta melotot sambil tetap tersenyum.
"Hemat bener kamu, ya!"
Chef mengunyah sesuap lagi.
"Kamu pakai keju?" Chef membelalak.
"Iya, Chef." Aku bersiap-siap menerima petuahnya.
"Gak rata ini kamu aduknya. Sebagian pas, sebagian agak asin. Kamu mau kawin lagiii?"
Kali ini Chef Renatta melotot tapi tak tersenyum.
Dan aku pun meletus seketika!
Pulau Weh, 17 Maret 2022
Jokes malam
Selasa Hujan, Selasa Berkah
Kelar apel pagi tadi, saya melipir bentar buat isi amunisi. Sarapan, karena senyuman saja nggak cukup untuk memulai hari dengan penuh harapan ya, kan?
Nggak lama, saya bersiap-siap starter motor kembali ke kantor, ketika tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh.
Saya lihat langit; gelap! Untungnya langit di hati nggak ikutan gelap. Saya menghitung-hitung apakah tepat untuk berangkat sekarang?
Melihat Niko yang sedang menikmati udara pagi tadi mencelat masuk rumah, saya pun segera melakukan hal yang sama.
Byuurrrrr. Segera saja hujan datang, seperti ditumpahkan dari ember besar di langit.
Saya raih hp, ceki-ceki Whatsapp dan memeriksa grup 21. Ada yang masih bingung dengan tema oloc (one love one comment) hari ini, ada yang sudah paham. Semangat yaa. Yuk kita bisa 😘
Syukurlah nggak lama hujan mereda. Saya raih jaket kesayangan dari cantolan, lanjut mendorong si tua magenta setelah mengelap bodi atasnya sebentar. Air masih jatuh dari langit, mencium jaket dan sebagian wajah ini. Gerimis dikit gapapa lah.
Saya tembus gerimis yang ternyata sedikit menderas di perjalanan menuju kantor. Alhamdulillah selamat sampai di tujuan.
Seperti hujan yang kadang lebat kadang gerimis, seperti itulah rezeki yang datang menghampiri kita. Kadang banyak, kadang banyak banget. Hehe.
Yang penting tetap bersyukur yaa 😊
Ketika Kita Berpisah
Puisi ini saya tulis 23 tahun yang lalu, tepatnya pada 16 Januari 1999 di tempat kerja saat itu; Horizon Biru.
Judul awalnya Ini Bukan Akhir Segalanya, dan karena menyesuaikan dengan durasi audio, ada beberapa bagian yang saya kurangi, tanpa menghilangkan maksud yang ingin disampaikan.
Tak disangka saya menuliskan ini saat "perpisahan kecil" untuk kemudian harus melewati perpisahan sesungguhnya
Selamat mendengarkan dari hati, semoga berkenan. Tetaplah kuat dan berbahagialah apa pun yang terjadi.
Rindu Januari
Hari ke empat Januari, hujan kembali mengguyur bumi
Ketukannya pada atap rumah, bukan lagi dalam irama yang sekedar ramah
Seakan melepas rindu, setelah sekian waktu tidak bertemu.
Ah, hujan.
Kau selalu mampu buat benakku melahirkan
The Island, 04-04-2022
CAPPADOCIA No Way Home
Bunyi chat di salah satu marketplace (MP) elbookstoreid menanyakan buku Bisnis Logika Langit, di luar jam operasional toko. Untungnya masih jam patroli batman.
Karena 3 hari lalu pusat sedang stok opname, jadilah saya teruskan info tersebut ke cabuy alias calon buyer. Serta kabar bahwa buku couplepreneur itu bisa dimasukkan ke keranjang mulai pukul 10.00 WIB di hari ke-tiga Januari.
Bayangkan kalau sampai 11 Januari mengikuti kenangan Gigi, saya bisa karatan, cabuy apalagi.
Ciee, ketahuan niih yang baca sambil bersenandung dalam hati.
...
Pagi tadi setelah cek web, saya mengabari kepastian tersebut kepada si cabuy tadi.
~~~
Memroses pesanan lewat MP dalam beberapa hal memang lebih efektif buat reseller seperti saya. Efektif dalam hal chit chat yang biasanya lebih to the point.
Beda 'kan kalau kita chat? Bisa jadi ada cerita ke Cappadocia sembari ikutan screaming virtual "It's my dream, Mas. Not hers!"
Saya pernah tuh mencoba menyelipkan hal lucu di kolom chat MP dengan status saya sebagai pembeli. Dianggurin, euy!
Lagian, eksperimen kok aneh-aneh juga. 😌
Di sisi lain, ada kewajiban yang nggak boleh dilewatkan seller di MP. Kalau via chat apalagi sama temen, hampir nggak ada yang minta resi.
Di MP? No resi, mati! Itulah kenapa saya menambahkan waktu PO 2 hari untuk mengantisipasi pembatalan otomatis. Juragan MP pasti paham betul ini.
~~~
Setiap channel penjualan punya kelebihan dan kekuatan serta kekurangan dan kelemahannya masing-masing. Tinggal kitanya aja mau pakai yang mana, dan mesti siap dengan segala tanggung jawabnya.
Seperti kata aunt May-nya Peter Parker,
“Dengan Kekuatan Besar, Muncul Tanggung Jawab Besar.”
Weh Island, 3 Januari 2022
Whatever you do, do it with love
Lizanovia M. Hadi
Hujan: Selamat Datang, Januari!
Setiap hujan turun, dua perasaan datang melingkupi saya sekaligus; bahagia dan was-was.
Bahagia, karena bagi saya rain makes everything better. Hujan selalu menghadirkan perasaan-perasaan yang terakumulasi menjadi rangkaian aksara. Ketika kemarau lama bertandang, sentuhan air langit pada wajah bumi menciptakan sensasi khas yang selalu mampu membuat mata terpejam dan menghidu aromanya; petrichor.
Dan bukankah hujan itu membawa berkah?
Manusialah yang acapkali mengubah berkah menjadi musibah.
Lalu, perasaan was-was?
Kalau hujan sudah terlalu lebat, saya takut selokan di depan rumah jebol, yang artinya rumah kami akan banjir lokal.
Teringat beberapa tahun silam rumah kami beberapa kali mengalami banjir, meski "hanya" bagian ruang tamu dan sebagian kamar belakang. Tahun terakhir malah kamar saya ikut kena icip lidah air meski (lagi-lagi) "hanya" sebagian depan pintu ke dalam.
Kurang lebih dua jam saya berdua kakak berjibaku menguras air waktu itu, tengah malam dimana orang sedang lelap-lelapnya. Sesekali kakak keluar rumah dengan payung di tangan - yang sebenarnya tak terlalu membantu karena begitu lebatnya air tercurah, membersihkan selokan dari sampah-sampah bawaan hujan yang turut menyumbang luapan air.
Alhamdulillah di antara kepenatan itu, terselip kenangan yang meski bikin panik saat kejadian, saat diingat-ingat selalu sukses melengkungkan kedua sudut bibir ke atas.
Klara, atau kami biasa memanggilnya Ala. Mahluk empat kaki berbulu satu itu begitu penasaran dengan genangan air. Kalau tidak segera diraih waktu itu, bisa dipastikan kucing 𝘨𝘦𝘮𝘰𝘺 itu sudah mempraktikkan bagian kedua peribahasa "berenang-renang ke tepian" entah sukses atau tidaknya.
Weh Island, 01-01-2022
Sekali Lagi Tentang Kehilangan
Semalam, saya bertakziah ke rumah tetangga. Ia kehilangan bayinya sesaat setelah melahirkan. Si bayi segera dibawa pulang, sementara ibunya masih ditahan di rumah sakit.
Saat menyaksikan bayi mungil nan tampan yang seperti tidur itu dikafani, saya tak sanggup menahan mata yang berkaca. Meski belum pernah kehilangan bayi, tapi saya tahu bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang dicintai, dari orang tua, saudara kandung, saudara jauh hingga sahabat. Kehilangan bayi tentu lebih berat lagi rasanya, apalagi bagi tetangga saya yang tidak bisa melihat putranya untuk terakhir kalinya itu. Baru tadi pagi saya dengar kabar si ibu baru dipulangkan malam itu juga, setelah buah hatinya dikebumikan.
Pengalaman semalam mengingatkan saya akan kisah seorang ibu muda yang juga kehilangan bayinya. Bukan saat melahirkan, tapi saat sudah 2,5 bulan. Tapi kehilangan tetaplah kehilangan, 'kan?
Muri Handayani kehilangan putrinya yang saat itu sedang lucu-lucunya, yang sangat dinanti-nanti kehadirannya.
Mundur ke masa-masa sebelumnya, saat ia dipaksa resign dari perusahaan tanpa pesangon, karena kehamilannya. Keadaan ekonomi yang minus saat itu membuatnya tidak merasakan keistimewaan yang seharusnya didapatkan seorang calon ibu, karena harus berjuang bersama suami untuk menjemput rezeki.
Rasa sakit kehilangan bayi ditambah kesedihan masa kecilnya yang kemudian membuat Muri memegang teguh visi hidupnya; me-resign-kan ibu rumah tangga yang masih bekerja di luar rumah, namun tetap berkarya dan menghasilkan dari rumah. Untuk itulah SBO atau Sekolah Bisnis Online didirikan, setelah sebelumnya sempat gulung tikar di 6 bisnisnya, dan baru berhasil saat merintis RAZHA, produsen inner hijab.
Gulali, SAO (Sekolah Admin Online), YUUKA Indonesia dan YUUKA Factory, adalah bisnis berikutnya yang didirikan oleh perempuan kelahiran Jakarta ini menemani keseharian Muri Handayani ketika menunggu anak-anaknya pulang dari sekolah.
Muri Handayani awalnya tidak suka menulis tapi bisnis memaksanya untuk belajar copywriting demi pemasaran produknya yang dilakukan secara online. Hingga kemudian melahirkan 5 buku yang mengemban visinya membantu ibu rumah tangga berkarya dari rumah; Emak-Emak Jago Jualan, Resep Ampuh Membangun Sistem Bisnis Online, Mudahnya Bikin Laporan Keuangan Bisnis Online, Creativepreneur. Buku terbaru beliau Move On, Mak! yang membuat saya melahirkan tulisan ini.
Kehilangan tidak membuatnya menyerah. Kehilangan menempanya untuk maju dan bertekad membantu sesama.
14 November 2020
Late post setahun yang lalu di kelas LAAF Facebook
AKU DAN TOMAT Behind The Scene
Hai. Lama tak berjumpa 🥰
Terakhir posting Januari lalu, itu artinya kurang lebih 8 bulan saya tak menarikan jari-jari di sini. Aaahhh... Begitu banyak rasa dan kata terpendam, sebenarnya. Namun takluk oleh ketaksanggupan saya me-manage waktu dan kerap terburu.
I don't want to say I am busy. Coz it will be an excuse 🥲
Baiklah. Untuk memulai lagi, saya akan berbagi kegiatan hari ini, khususnya aktivitas motret di kelas Phonephotography batch 17 oleh Jempol Kreatif Squad (JKS).
Di kelas motret JKS hari ini, kami mendapat tugas motret dengan tema tomat atau stroberi yang dibuat negative space, setelah dua hari sebelumnya tema cake dan es krim.
Pokoke batch kali ini diajak nganan kita ama mentor 😁
Oya, yang belum tau apa itu negative space, boleh googling yaa 😊
Sejak pagi saya sudah mengintip grup diskusi sebenarnya, melihat sekilas teman-teman yang setor hasil "kakean polah" masing-masing untuk dikoreksi mbak mentor.
Seperti biasa, saya harus sabar menunggu break time makan siang.
Apalah daya, saat pulang kantor pas waktunya tiba, rasa kantuk begitu kuat menyerang. Setelah salat dhuhur, auto tepar badan ini di atas bangku kayu ruang tamu.
Kenikmatan itu sungguh tak mengenal ruang dan waktu.
Saya baru terbangun saat ada ketukan di pintu sembari ucapan salam, yang rupanya orang mengantar berkat. Setelahnya ya tidur lagi. Hehe. Baru akhirnya benar-benar terbangun dalam keadaan pusing dan teringat tugas motret hari itu.
Setengah hati udah berniat bolos karena kepala yang masih terasa "goyang", tapi ketika mbak mentor bilang di grup,
"Udah. Coba aja..."
Saya buka kulkas, mencomot beberapa tomat. Kalender dari gantungan dicopot untuk dipakai belakangnya sebagai alas dan background.
Nggak lupa tomatnya saya percik air.
Saya coba motret 1 tomat, kok aneh?
Saya pakai 3 tomat dan masukkan ke dalam wadah kaca, kok nggak cocok?
Langsung teringat rok hitam yang kemarin sempat saya pakai juga untuk background. Pengen ketawa sebenernya. Duuh, propertiku kok gini banget siih 😅
Karena waktu saya nggak banyak, juga masih pusing sebenarnya, proses motret aka "kakean polah" yang jadi tagline mbak mentor, kali ini lebih singkat dari biasanya.
Proses pilih font untuk quotes juga ngga se-rempong biasanya. Pokoknya kejar setoran banget dah.
Beberapa kali ikut kelas JKS, saya biasanya menggunakan quote saya sendiri. But this time I have no time to think about that. So, saya search lah quote tentang tomat. Wkwk
And this is what I found.
Saking buru-burunya, saya nggak sempat mencari orang di balik layar yang ternyata Brian O'Driscoll, mantan pemain rugby internasional Irlandia. Brian yang kelahiran 21 Januari 1979 mengatakan kutipan itu saat sesi wawancara pasca menghadapi Inggris di Six Nations Championship yang sebenarnya adalah bagian dari taruhan dengan Gordon D'Archy, sesama pemain rugby di tim Leinster.
So, what do you think about his quote?
Key of Happiness
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuliskan tentang buku Key of Happiness ini. Sekaligus mengikutsertakan fotonya di tugas motret kelas optimasi facebook LAAF pada batch yang lalu.
Tak apa-apa yaa kalau kali ini saya ulangi? Karena memang kebahagiaan adalah salah satu topik yang tak akan pernah habis untuk ditulis. Selalu seru untuk dibahas hingga bercangkir teh atau kopi yang tandas.
Setiap orang ingin bahagia. Setiap orang mencarinya dengan berbagai cara, hingga kadang terlupa bahwa bahagia itu sederhana, ia ada di sekitar kita.
Kita bahagia ketika hari ini masih bisa melihat matahari, merasakan udara yang kita hirup sepenuh hati, menyaksikan alam penuh warna menjadi penyejuk mata ini.
Kita bahagia mendengarkan tawa sahabat dan kerabat menghampiri gendang telinga kita, lalu ikut tertawa bersama mereka.
Kita bahagia membersamai anak-anak kita dengan segala tingkah polahnya. Bahkan ketika mereka sedang tak bersama kita untuk beberapa alasan, kita masih bisa melihatnya dari kejauhan. Dengan kecanggihan teknologi, kita bertukar informasi. Dan yang utama, kita masih bisa berdo'a dan dido'akan oleh mereka.
Bahagia erat kaitannya dengan syukur. Syukur tak hanya ada di saat kita mendapatkan apa yang didamba, tapi juga saat apa yang dicinta terlepas begitu saja. Saat semua terjadi di luar rencana-rencana yang sudah kita susun dengan indah dan seksama.
Berbahagialah. Terlalu banyak syarat untuk bahagia, pada akhirnya yang kita dapat hanya derita.
Mari kita ulangi sekali lagi kutipan hebat ini;
If you want to be happy, be.
-Leo Tolstoy
Sebuah catatan untuk diriku
Day 40, 9 April 2021
Golden Parenting
Tanaman yang subur membutuhkan perawatan yang baik. Ada beraneka tanaman, beragam pula cara perawatannya.
Bougenville dan Adenium membutuhkan sinar mentari yang melimpah, sementara Sansiviera memerlukan sekedarnya saja. Tanaman yang juga dikenal dengan lidah mertua ini bahkan bisa bertahan lama tanpa air.
Nah, beda lagi dengan Lucky Bamboo yang oke-oke saja hidup di dalam wadah penuh air. Yang terakhir ini saya ingat duluuu sekali pernah menanamnya, karena kepincut saat dibawa penjual keliling ke kantor. Tapi sayang umurnya ngga bertahan lama. Kalo soal pertanaman ini saya harus akui bakat saya lebih ke penikmat belaka.
Bicara mengenai perawatan dan pengasuhan, yang paling utama kita ingat tentunya adalah pengasuhan anak, utamanya di masa-masa emasnya, atau yang lebih kita kenal dengan istilah Golden Parenting.
Beda zaman beda seni dalam mengasuh anak, baik dalam cara berkomunikasi maupun teknik penyampaian kebaikan pada anak-anak. Meski tentu saja ada nilai-nilai dari masa lalu yang tetap relevan untuk masa kini
Selain skill, orang tua zaman sekarang juga dibutuhkan kehadirannya bagi anak-anak mereka.
Tapi kehadiran macam apa?
Seperti apa sejatinya cara membersamai mereka?
Bagaimana mindset sebagai orangtua, bagaimana seyogyanya pola pengasuhan yang memberikan dampak positif bagi anak saat ini dan untuk masa depannya nanti?
Semua akan dibahas dengan penuh hikmah dilengkapi sentuhan kisah menggugah dalam buku Golden Parenting.
Sebuah buku yang dari halaman awal mengajak untuk bercermin ke dalam diri tentang hakikat pendidikan dalam keluarga, yaitu pengasuhan keemasan.
Kalau tanaman saja membutuhkan perawatan dan pengasuhan yang baik, apatah lagi anak kita?
Day 22, 22 Maret 2021
Setelah Badai
![]() |
| Ilustrasi from Google |
























