Catatan Harian & Perjalanan. Puisi &Fotografi. Tutorial Blog, Komputer & Media Sosial

Take It Away!

wajah-takut-scary
"I catched the snake," tersenyum ia menunjukkan selingkaran mahluk di tangan kirinya, tidak besar tapi juga tidak bisa dibilang kecil.

"Yaiikkk!" Refleks aku mundur menjauh. Jijik dan ngeri luar biasa. Gunting yang kupegang hampir terlepas dari genggaman.

Lelaki ini menunjukkan ular serupa kucing mempersembahkan tikus hasil tangkapan kepada tuannya, dengan wajah bangga dan menghamba.

"Take it awaayy!" seruku tertahan memejamkan mata dan memalingkan wajah. Ular adalah binatang yang paling tak ingin kulihat di dunia ini.

"Okay, dear." Ada rasa bersalah dalam suaranya. Kudengar suara kerikil terinjak dan langkah yang bergegas menjauh. Aku menghela nafas, menenangkan jantung yang berdegup kencang. Kutinggalkan rumpun mawar yang tengah kupangkas tadi. Duduk menghempas di bangku kebun dengan tangan yang masih bersarung dan memegang gunting.

Seumur hidup, sudah beberapa kali aku terpaksa melihat ular. Tapi tidak pernah aku sepanik tadi. Maksudku, sepanik apapun aku tetap bisa mengendalikan diri. Diam sambil terus melafadhkan kalimat-kalimat-NYA. Dan baru akan berteriak saat mahluk itu telah pergi.

Kuletakkan gunting di pangkuan, kubuka sarung tangan bercocok tanam. Setengah membungkuk kuselipkan keduanya ke dalam laci penyimpanan di bawah bangku setengah beton setengah papan ini. Tiba-tiba kerongkonganku terasa begitu kering. Baiklah, aku akan mengambil air di dapur.

Belum sempurna kutegakkan tubuh, kudengar kerikil yang kembali terinjak. Aku menoleh dan mendapatinya tengah melintasi halaman ke arahku, kali ini dengan tangan kosong. Kusambut ia dengan senyum lega.

"I am sorry, dear. I didn't mean..." Tatapannya membungkusku dengan permintaan maaf yang dalam.
Kedua tangannya menggantung di udara, seakan ingin tapi ragu untuk menyentuh kedua lenganku.

"Where is it?" Tubuhnya yang menjulang memaksaku mendongakkan kepala untuk membisikkan rasa ingin tahuku yang tertahan.

"What?" agak geli ia memandangku kini.

"The snake?" Aku kembali bergidik, tapi mengangguk pendek dan cepat.

"I let it go," lanjutnya tetap tersenyum
"Listen. I really don't know that you are afraid of snake. I have seen you as a brave woman. I never thought...."

"Yeaah," erangku. "Superwoman is still a human." Gayaku pasti sudah seperti pemeran wanita di DC Comics hingga ia kembali tertawa geli melihatku.

"Okay, my superwoman human," towelnya di hidungku yang mungil. "Sit down and wait here. I will bring you a glass of water. You must be thirsty after that fight with a snake monster," kerlingnya sambil terkekeh. Beranjak menuju pintu dapur kami, tak begitu jauh dari bangku yang kembali kududuki.

Aku duduk sambil tersenyum memandangi punggungnya. Lelaki half latin-ku, suami yang kunikahi tiga bulan lalu.

Bersambung...

Sabang, 15.05.2020

Share:

Keajaiban Rasa

Mengetahui dirimu disayangi oleh orang
Yang tanpa sadar juga kau sayangi
Itu seperti duduk di pasir pantai
Menikmati pemandangan dan debur ombak
Lalu tiba-tiba kau rasakan
Lidah ombak menjilati kakimu
Mengejutkan
Namun menyejukkan

Anoi Itam Beach, 16.07.2017
Mengumpulkan Yang Terserak
Share:

Filosofi Staples

Tahu staples?
Di tempat saya biasa disebut anak penjilid atau anak hecter. Kalau ada anaknya, tentu ada ibunya. Ibunya ya si Hecter ini alias stapler. Hehehe.

Teman-teman tentu sudah pada tahu dong fungsi si staples ini. Yap! Ia berjasa menyatukan dokumen-dokumen penting kita, makalah, catatan, faktur atau apalah supaya rapi dan ngga tercecer. Staples juga yang membantu ibu-ibu penjual nasi atau jajanan untuk membungkus dagangannya. Cekrek! Cekrek!  :) Meski dua yang terakhir ini ngga recommended yaa, mengingat resikonya yang ngga kecil.

Kalau saya sendiri dulu biasa memakai staples ini buat cekrek-in foto-foto ke formulir di tempat kerja yang lama, karena kalau pakai lem, tumpukan dokumennya gembung sebelah, jadi ngga enak dan ngga rapi dilihatnya. 

Whatever, pokoknya banyak lah kegunaan si staples ini.

Sepanjang pengetahuan saya, staples ini ada 3 macam ukuran. Yang paling kecil dan sering kita lihat dan pakai adalah yang nomor 10. Trus ada yang ukuran sedang (nomor 1) dan yang gede nomor 3. Koreksi saya kalau salah yaa 😊

Staples ini sifatnya ngga jauh beda sama jarum. Beda tipis, 11 12 lah. Keduanya sama-sama melukai dulu sebelum menyatukan apa-apa yang sebelumnya terpisah. Sama seperti teman yang baik, kata-katanya mungkin terkadang menusuk, tapi tujuannya untuk kebaikan kita.

Staples juga sejago dan "sepedas" cabe rawit. Wujud boleh kecil tapi "sensasi" yang diberikan sungguh besar. Coba aja pas buka bungkusan nasi yang distaples ngga hati-hati, trus staplesnya terjatuh sembunyi di antara lauk. Pasti kalang kabut, kaan? Pernah ada teman yang cerita, dianya ngga sengaja ketelan staples pas makan nasi bungkus. Ngeriii. 

Pengalaman pribadi saya di anak sendiri, yang ngga sengaja menginjak staples di sekolahannya. Pas jadwal kunjungan seminggu sekali dulu sebelum pandemi (anak saya mondok), dia ngga ngasih tahu karena menganggap sepele. Alhasil seminggu kemudian saya melarikannya ke IGD setelah dapat telpon darurat. Alhamdulillah segera diobati dan ngga terjadi apa-apa.

Staples menjadi barang yang berguna  saat kita tau memanfaatkannya dengan benar. Namun dia berubah berbahaya saat kita menyepelekan.

Sama halnya saat kau meremehkan dan menyepelekan orang lain hanya karena penampilannya. Lalu terkejut saat ternyata dia lebih dari yang kau kira.

Catatan lama yang hampir terabaikan
Share:

Featured post

Cara Mudah Bikin Blog dari Ponsel

Baru-baru ini ada beberapa teman yang meminta dibikinkan tutorial cara bikin blog yang mudah tanpa mesti menggunakan komputer alias dari...

Arsip